Adian Napitupulu Sang Aktivis Mahasiswa Punya Segudang Gerakan

Minggu, 28 April 2019 | 12.16 WIB
Kali Dibaca |


Jakarta-Metrokampung.com
Adian Yunus Yusak Napitupulu tak asing lagi di dengar masyarakat sekarang ini. Gayanya yang santai, cuek, dan gimbal sudah menjadi ciri khasnya tersendiri.

Dari jalanan, ia masuk Senayan sebagai anggota DPR pada 2014-2019.Pada tahun 2019 ini ia kembali berhasil masuk Senayan.

Adian Napitupulu begitu sapaan akrabnya adalah seorang politikus dan aktivis, yang saat ini menjabat  sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan mewakili daerah pemilihan Jawa Barat V (Kabupaten Bogor) sejak tahun 2014.

Pria berdarah Batak ini sekarang menjabat sebagai anggota Komisi VII DPR. Posisinya sebagai Anggota Dewan ini, dirinya memiliki tugas dan tanggung jawab di bidang  energi, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup.

Adian Napitupulu mengenakan celana jeans hitam dan setelan jas dalam acara pelantikan anggota DPR RI pada 2014 silam.

Aktivis Forkot yang rajin mendemo Soeharto pada 1998 ini mengaku tak mempermasalahkan cara berpakaiannya saat menghadiri pelantikan di gedung DPR.

"Lah yang jadi anggota DPR orangnya atau bajunya, yang penting memenuhi kepatutan," ucap Adian ketika akan memasuki gedung DPR, Senayan, Jakarta, 1 Oktober 2014 kala itu.

Adian mengenakan jas yang diakuinya dibeli di Bandung seharga Rp 80 ribu. Dia juga memakai celana berbahan jeans berwarna hitam.

Dunia politik bagi pria kelahiran Manado ini memang bukan hal yang asing lagi. Itu karena sebelumnya dirinya sudah lebih dulu dikenal sebagai seorang aktivis politik dan pergerakan mahasiswa dengan sebutan parlemen jalanan yang digagasnya.

Lahir dari pasangan Ishak Parluhutan Napitupulu dan Soeparti Esther, pada masa kecilnya Adian sering berpindah-pindah kota untuk mengikuti dinas ayahnya yang merupakan pegawai negeri sipil dan sempat menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri di beberapa kota.

Ketika Adian masih berumur 10 tahun, sang ayah meninggal dunia ketika menjabat di Kejaksaan Agung RI. Sejak kepergian sang ayah, dari situlah akhirnya Adian tinggal di Jakarta hingga sekarang ini.

Sejak Adian dikenal sebagai seorang aktivis, pria kelahiran 9 Januari 1971 memiliki rekam jejak yang cukup panjang.

Pada tahun 1991, Adian sempat ditangkap dan ditahan ketika menjadi buruh di sebuah pabrik kayu karena keterlibatannya dalam 5 kali demontrasi dan pemogokan di pabrik, Adian kemudian diberhentikan dengan tidak hormat.

Adian menyelesaikan sekolah dasarnya di SDN 01 Ciganjur, Jakarta dari tahun 1979 sampai 1985, sekolah menengah pertama di SMP Negeri 166 Jagakarsa Jakarta dari 1985 hingga 1988, dan terakhir bersekolah di SMA Negeri 55 Duren Tiga Jakarta dan tamat pada tahun 1991.

Adian kemudian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia pada tahun 1991, karena berbagai macam kegiatan aktivisnya, ia baru dapat menyelesaikan studi S1-nya tersebut pada tahun 2007.

Sejak kuliah, dirinya juga aktif di berbagai pergerakan kemahasiswaan. Dibuktikannya saat dirinya menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di kampus tersebut dan kemudian mendirikan kelompok diskusi ProDeo pada tahun 1994.

Bahkan, dirinya juga terpilih menjadi senat mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada  tahun 1995. Tercatat saat itu Adian mengikuti demonstrasi solidaritas terhadap Sri Bintang Pamungkas yang membuatnya ditangkap dan diinterogasi polisi.

Ternyata sejak Adian masih duduk di bangku perkuliahan, pria yang kini berusia 48 ini pada tahun 1996 sudah dekat dengan PDIP dan Megawati Soekarnoputri.

Saat itu dia mendirikan posko Pemuda Mahasiswa Pro Megawati yang merupakan satu-satunya organisasi non PDI yang memberikan dukungannya pada Megawati Soekarnoputri usai kejadian penyerbuan kantor DPP PDI pada tanggal 27 Juli 1996.

Bentuk dukungannya kepada Megawati pun dibuktikannya dengan mengumpulkan sejumlah kawan-kawan sesama aktivis untuk menggalang demonstrasi solidaritas.

Demonstrasi pertama dilakukannya pada 28 Oktober 1996 di Gedung Sumpah Pemuda yang kemudian menyebabkan Adian ditangkap dan diinterogasi kembali oleh kepolisian.

Akhir tahun 1996, Adian membentuk Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) Jakarta bersama teman-temannya.

Salah satu bantuan yang diberikan oleh lembaga ini adalah pengorganisasian terhadap Korban SUTET di Desa Cibentang, Parung, Jawa Barat. Pada tahun 1997, akibat aksi bantuannya itu Adian mendapat penganiayaan dari aparat.

Pada tahun yang sama, dia juga mendapatkan penganiayaan akibat menolak paksaan massa Golkar untuk menunjukkan jari tengah dan telunjuk yang merupakan lambang Golkar pada masa itu.

Sejak mendapatkan kekerasan itu, Adian mulai berpindah-pindah kantor dan tidak berkantor tetap di LBHN sebab kondisi politik yang tidak stabil kala itu.

Sejak pergerakan Adian itu, pada tahun 1998 dirinya mulai diperhitungkan karena terlibat pada pendirian Komunitas Mahasiswa Se-Jabodetabek bernama Forum Kota.

Organisasi yang berisi 16 kampus ini menjadi salah satu organisasi pertama yang menduduki gedung DPR/MPR Senayan pada tanggal 18 Mei 1998.

Usai tumbangnya Orde Baru pun, suami dari Dorothea Eliana Indah ini selalu saja terlibat dalam berbagai pergerakan dan aktivitas yang pro rakyat.

Pada tahun 2009, Adian mendirikan organisasi Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat). Bendera dikenal sebagai organisasi yang melakukan protes dan mogok makan sebagai bentuk solidaritas atas nasib kaum buruh pada tahun 2012.

Sebelumnya, pada tahun 2009, Adian sempat mendaftar menjadi calon anggota DPR melalui PDI Perjuangan namun ternyata dia belum lolos ke Senayan pada waktu itu.


Akhirnya pada tahun 2014, Adian Napitupulu berhasil duduk menjadi anggota DPR dari PDI Perjuangan dari Dapil Jabar V.

Berikut Organisasi dan Aktivitas Adian Saat Menjadi Aktivis:

*Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia 1992.
*Pendiri kelompok Diskusi ProDeo 1994.
*Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Univeristas Kristen Indonesia 1994.
*Posko Pemuda dan Mahasiswa (DPP PDI Jl Diponegoro 58) 1996.
*Sekretaris Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN)Jakarta 1996.
*Pendiri Aliansi Pemuda Indonesia(API) 1996.
*Penggagas dan Pendiri Komunitas Mahasiswa Se Jabotabek (Forum Kota / Forkot) 1998.
*Penggagas Pendudukan Gedung DPR/MPR 1998.
*Penggagas Aksi Rakyat Bersatu (AKRAB) 1998.
*Penggagas Rembuk Nasional Mahasiswa Indonesia I (RNMI I) Denpasar 1999.
*Penggagas Jaringan Kota tahun 2000.
*Penggagas dan Pendiri Solidaritas Advokasi Korban SUTET Indonesia (SAKSI) 2004.
*Sekjend 98 Center 2005.
*Pendiri Kota Law Office 2007.
*Pengagas dan pendiri ARBAS (Aliansi Rakyat Adili Soeharto.
*Penggagas Pertemuan Nasional Aktivis 98 tahun 2007.
*Sekjend Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA’98) 2007. (ist/red)

Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

 
©Copyright 2017 - All Rights Reserved