Pengikut

SUMUT

NASIONAL

Predikat 'Rapor Merah' Tirtanadi Kembali Ditanyakan

Kamis, 07 Januari 2021 | 08.29 WIB
Kali Dibaca |

Kantor Pusat PDAM Tirtanadi

Medan, metrokampung.com
Forum Komunikasi Lembaga Swadaya Masyarakat Bersatu (Forkom LSM Bersatu) kembali mempertanyakan predikat 'Rapor Merah' PDAM Tirtanadi yang diutarakan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi saat kegiatan silaturrahmi di Pendopo Rumdis Gubsu akhir Juni 2020 silam. 

Demikian disampaikan Zulhamri, Ketua Umum LSM KSMN Sumatera Utara yang akrab disapa Amri Daeng, Rabu  (6/1/21).

Lanjut Daeng yang  merupakan salah seorang Ketua Bidang Forkom LSM Bersatu, menurut sejumlah tokoh LSM,  istilah 'rapor merah' bukan hanya ditujukan kepada mantan Dirut Trisno Sumantri semata, melainkan juga untuk ketiga direksi bidang PDAM Tirtanadi yang sampai kini masih tetap menjabat, yaitu Feby Milanie Direktur Administrasi Keuangan, Joni Mulyadi Direktur Air Minum, dan Direktur Air Limbah Fauzan Nasution
 
"Bahkan ketiga direksi bidang yang terkesan 'kebal hukum' tersebut kerap membuat kebijakan yang diduga berbau korup dan meresahkan pekerja. Seperti pemberlakuan absensi online terindikasi melanggar hak privasi pegawai maupun tenaga kontrak serta dugaan manipulasi pengadaan hape untuk program aplikasi pencatatan meter air berbasis android", bebernya
  
Terkini, tambah Amri Daeng, terjadi keresahan dikalangan ratusan pegawai tetap maupun tenaga kontrak di kantor pusat Jalan SM.Raja No 1 Medan itu akibat ketidaksiapan sistem pembayaran via rekening pribadi para pekerja. Sehingga pembayaran uang makan dan lembur terhitung sejak tanggal 19 Desember 2020 hingga akhir tahun lalu tersinyalir belum dibayar.
     
Kemudian Amri Daeng memaparkan, analisa logika yang mendasari pendapat kalangan LSM terkait predikat 'rapor merah' tersebut, mengingat secara umum tugas jajaran direksi, (dalam hal ini dirut beserta para direktur bidangnya), diantaranya menetapkan kebijakan bagi manajemen melalui proses perencanaan, pengoperasian, pengelolaan, serta pengawasan sumber daya dengan cara efektif dan efisien

"Lantas ketika terkena sanksi rapor merah, kenapa hanya Direktur Utama (Trisno Sumantri) saja yang mendapat sanksi pencopotan. Sejatinya  ketiga direksi bidang PDAM Tirtanadi yang sempat menjabat kolektif kolegial itu harus turut bertanggungjawab atas 'nilai rapor merah' tersebut,"bilang Daeng.

Tak jauh beda dengan Ketua DPP LSM Sidik Perkara Agus Edi Syahputra Harahap, salah satu unsur Presidium Forkom LSM Bersatu ini menghimbau Dirut PDAM Tirtanadi Kabir Bedi agar bertindak bijaksana dan proporsional, terutama dalam merekrut staf atau pejabat mulai jenjang Kabag, Kepala Cabang sampai Kadiv setingkat
       
"Evaluasi perlu dilakukan, selain penyegaran, hal tersebut dapat menjadi motivasi bagi pegawai yang belum pernah diberi kesempatan. Karena pola mutasi dan promosi jabatan selama ini diduga adanya unsur diskriminasi maupun kepentingan oknum petinggi", ungkap Agus Harahap.
 
Bahkan menurutnya, kedudukan SDM (Human Recources) menjadi salah satu kunci penentu maju mundurnya PDAM Tirtanadi. Sehingga manajemen harus melakukan pengelolaan SDM secara profesional seperti menempatkan pegawai maupun pejabat sesuai bidang kemampuannya tanpa adanya unsur politis, kedekatan, apalagi dugaan suap jual beli jabatan.

Gubernur Edy Rahmayadi melantik Kabir Bedi menjadi Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirtanadi Provsu, Selasa (10/11/2020) lalu di Pendopo Rumah Dinas Gubernur Sumut Jalan Jenderal Sudirman Medan. (dra/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru