SUMUT

NASIONAL

Kajian Potensi Pencemaran Keramba Jaring Apung PT. Aquafarm Nusantara Pada Ekosistim Perairan Danau Toba

Minggu, 01 Desember 2019 | 21.14 WIB
Kali Dibaca |

Kerambah Jaring Apung PT. Aquafarm Nusantara di Perairan Danau Toba. 

Tobasa, metrokampung.com
Saat ini, kualitas fisik-kimia-biologi perairan ekosistem Danau Toba telah mengalami penurunan oleh berbagai kegiatan manusia terutama kegiatan pemeliharaan ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) sehingga   sasaran manfaat air Danau Toba layak dikonsumsi sebagai air minum tidak akan tercapai di Ekosistem Kawasan Danau Toba.

Salah satu perusahaaan yang memelihara ikan di Keramba Jaring Apung adalah PT.Aquafarm Nusantara dengan memasukkan pakan sebesar 200 ton setiap hari tanpa ada Upaya Pengelolaaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL). Dengan demikian  para pemangku amanah ekosistem kawasan Danau Toba selalu mempertanyakan apakah aktivitas pemeliharaan ikan di KJA oleh PT.Aquafarm Nusantara telah menurunkan kualitas ekosistem perairan Danau Toba.

Penelitian itu bertujuan untuk mengkaji  potensi pencemaran yang dihasilkan oleh kegiatan pemeliharaan ikan di KJA oleh PT.Aquafarm Nusantara terhadap perairan Danau Toba.

Penelitian dilaksanakan di Medan dan lokasi KJA PT.Aquafarm Nusantara  selama empat bulan, yaitu mulai September sampai Desember 2008 untuk memperoleh   data primer dan data sekunder. Data primer berupa analisis di laboratorium tentang kadar nitrogen, fosfor dan air dari ikan yang dipanen serta pakan yang dipergunakan selama pemeliharaan.   Data sekunder berupa data-data proses produksi KJA diperoleh dari PT. Aquafarm antara lain jumlah dan konversi pakan yang digunakan setiap hari. Penelitian itu merupakan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Samosir.

Penentuan produksi limbah nitrogen dan posfor menggunakan metode   pendekatan keseimbangan massa dengan mengukur parameter kunci antara lain:
Prosentasi nitrogen pakan yang digunakan
Prosentasi nitrogen pada tubuh ikan
Kadar air tubuh ikan
Konversi pakan ikan yang digunakan
Jumlah pakan yang tidak terkonsumsi ikan
Jumlah pakan yang diberikan
Jumlah  nitrogen dan fosfor mencemari perairan oleh KJA dapat ditentukan berdasarkan data primer tentang pengukuran total nitrogen dan fosfor pada daging ikan hasil produksi KJA serta kandungan nitrogen dan fosfor pakan yang digunakan. Untuk menghitung kandungan  nitrogen, fosfor dan air tubuh ikan maka sekitar 10 ekor contoh ikan hasil budidaya diambil dari KJA PT.Aquafarm Nusantara.   

Hasil  kajian beban pencemaran nitrogen dan fosfor berasal dari KJA PT.Aquafarm Nusantara dianalisis dan interpretasi dengan menggunakan data skunder terutama karateristik fisika ekosistem perairan Danau Toba.

Hasil analisis laboratorium tentang  prosentasi nitrogen, posfor dan air pada pakan dan daging ikan terpapar pada Tabel 1 dan 2.  Selanjutnya Tabel 1 dan 2 juga menunjukkan jumlah limbah nitrogen dan posfor yang dihasilkan KJA setiap hari, yaitu  dengan menggunakan data analisis laboratorium tersebut, konversi pakan ikan yang digunakan sebesar 1.8 (berdasarkan data lapangan) dan jumlah makanan yang diberikan setiap hari 200 ton per hari (berdasarkan data lapangan) dengan assumsi 5 % pakan yang diberikan  tidak dikonsumsi ikan.

Berdasarkan data lapangan ada dua jenis pakan yang digunakan dan menurut persentase laboratorium bahwa prosentasi nitrogen yang terkandung pada pakan jenis 1  dan 2 adalah sebesar 5,23 % sedangkan kadar air pakan 1 sebesar 10,83 % dan pakan 2 sebesar 10,61 %. Selanjutnya prosentasi nitrogen daging ikan berdasarkan berat kering 10,53% dan kadar air ikan (berat basa) sebesar 75,23 %.  Dari Tabel 1 terlihat bahwa prosentasi nitrogen dalam pakan ikan yang menjadi limbah di perairan Danau Toba adalah sebesar 68,90 % untuk pakan jenis 1 dan 69,01 % untuk pakan jenis 2 dengan menggunakan konversi makanan 1.8. Menurut informasi yang didapatkan dari lapangan bahwa PT.Aquafarm menggunakan 200 ton pakan setiap hari untuk kegiatan KJA di perairan Danau Toba sehingga total limbah nitrogen yang dihasilkan di perairan Danau Toba setiap hari sebanyak 6,89 ton untuk pakan jenis 1 dan sebanyak 6,92 ton  jika semua pakan terkonsumsi ikan dengan assumsi 5 % pakan tidak terkonsumsi oleh ikan. Prosentasi nitrogen pakan yang menjadi limbah di perairan Danau Toba menurut kajian ini didukung oleh hasil beberapa penelitian sebelumnya (Beveridge, 1996) yang menunjukkan bahwa 70 % nitrogen yang dikonsumsi oleh ikan akan terbuang ke perairan (pakan yang digunakan dengan koversi ratio 1,6). Lebih lanjut total limbah fosfor yang dihasilkan di perairan Danau Toba setiap hari sebanyak 2.39 ton untuk pakan jenis 1 dan sebanyak 2.15 ton untuk pakan jenis 2  dengan assumsi 5 % pakan tidak terkonsumsi oleh ikan.

 Walaupun level  parameter fisik-kimia-biologi perairan masih pada batas toleransi tetapi limbah nitrogen dan fosfor yang dihasilkan oleh PT.Aquafarm  Nusantara sudah mempunyai potensi yang besar untuk menurunkan kualitas perairan Danau Toba mengingat Danau Toba mempunyai resident time air  77 tahun (Lehmusluoto dan Machbub, 1995) sehingga 6.89 ton limbah nitrogen dan 2.39 ton limbah fosfor masuk ke perairan Danau Toba dari PT.Aquafarm Nusantara akan keluar dari danau setelah  77 tahun dan hal ini diperparah oleh belum adanya Unit Pengelolaan Limbah di KJA Aquafarm Nusantara. Dengan demikian jika usaha pengelolaaan lingkungan tidak dilakukan maka peningkatan konsentrasi  nitrogen dan posfor oleh KJA Aquafarm Nusantara akan terjadi setiap hari dan akhirnya kualitas ekosistem perairan Danau Toba menurun setiap hari.

Belum adanya informasi  ilmiah tentang pola arus perairan Danau Toba dapat menerangkan bahwa ada kemungkinan  limbah limbah KJA PT Aquafarm Nusantara terbawa arus ke daerah lain yang mengakibatkan parameter kualitas air di sekitar KJA Aqufarm masih level toleransi walaupun konsentrasi  limbah nitrogen dan fosfor yang dihasilkan KJA Aquafarm sudah tinggi setiap hari.

 Hasil kajian ilmiah sebelumnya  di bidang budidaya ikan (Beveridge and Philips, 1993) menemukan bahwa  sebesar 74. 59 % produk nitrogen hasil metabolisme ikan tilapia dibuang melalui urine  dan hanya 25.41 % produk nitrogen ikan tilapia diekskresikan dalam bentuk feses. Dengan demikian  total jumlah nitrogen yang dibuang dalam bentuk urine ikan tilapia pada KJA PT.Akuafarm sebanyak 5,14 ton untuk pakan jenis 1 dan 5,16 ton untuk pakan jenis 2,  dengan asusmsi sebesar 5 % pakan tidak terkonsumsi oleh ikan. Sedangkan total jumlah nitrogen yang diekresikan melalui feses ikan tilapia pada KJA PT. Akuafarm sebanyak 1,75 ton untuk pakan jenis 1 dan 1,76 ton untuk pakan jenis  2. 

Berdasarkan  pendekatan biomas pakan yang digunakan dengan menggunakan hasil analisis kadar air pakan dan ikan yang dipakai serta konversi pakan 1,8 maka jumah limbah padatan yang dihasilkan oleh KJA PT  Aquafarm adalah sebesar 168,72 ton per hari untuk jenis pakan 1 dan 169,220 ton per hari untuk jenis pakan 2. Limbah padatan ini juga merupakan potensi bagi perairan Danau Toba untuk meningkatkan padatan tersuspensi, terkoloid dan terlarut serta pendangkalan danau mengingat pengeluaran utama Danau Toba hanya Sungai Asahan. Partikel padatan yang selalu mengendap di dasar danau tidak mungkin dikeluarkan dari Sungai Asahan karena air yang keluar dari danau  bukan dari bawah tetapi dari atas.

Limbah organik KJA yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut.  Dengan demikian KJA PT Aquafarm Nusantara dengan menggunakan limbah 200 ton per hari telah mempunyai potensi yang besar untuk menurunkan kualitas air seperti di jelaskan lebih mendetail di bawah ini.

Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan. Sumbangan partikel  padatan sekitar 169 ton per hari oleh KJA PT.Aquafarm dapat mempercepat pendangkalan perairan Danau Toba sebab pengeluaran utama danau adalah Sungai Asahan yang airnya dikeluarkan  dari atas danau dimana semua padatan selalu tertinggal di dasar danau.

Sisa pakan dan feses ikan KJA PT. Aquafarm Nusantara  yang mengandung bahan organik dapat berupa padatan tersuspensi,  terkoloid dan terlarut yang sangat berpengaruh kecerahan dan kekeruhan selanjutnya berkaitan erat  dengan proses fotosintesis dan respirasi organisme perairan. Tingginya padatan tersuspensi, terlarut dan terkoloid dapat merusak  sistem pernapasan ikan dan larva ikan yang hidup di danau.

 Sisa pakan dan hasil metabolisme ikan KJA PT Aqufarm Nusantara sebagai limbah  di badan air Danau Toba jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hidupnya tidak memerlukan oksigen) dan mikroba .fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan aerobik dan anaerobik).

Semakin banyak limbah organik yang masuk dan tinggal pada lapisan aerobik akan makin besar pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang mendekomposisi, bahkan jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada melebihi konsentrasi oksigen terlarut maka oksigen terlarut bisa menjadi nol dan mikroba aerobpun akan musnah digantikan oleh mikroba anaerob dan fakultatif yang untuk aktifitas hidupnya tidak memerlukan oksigen. Walaupun hasil pengukuran oksigen terlarut di lokasi penelitian tetapi KJA PT. Aquafarm Nusantara  sudah berpotensi untuk menurunkan kadar oksigen di perairan mengingat jumlah limbah yang dihasilkan besar dan belum adanya informasi mengenai pola arus. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa KJA telah menimbulkan penurunan oksigen terlarut di perairan Danau Maninjau, yaitu dari hasil pengukuran oksigen terlarut , BOD5 dan COD.

Pengaruh pertama proses dekomposisi limbah organik di badan air aerobik adalah terjadinya penurunan oksigen terlarut dalam badan air. Fenomena ini akan mengganggu pernafasan fauna air seperti ikan batak  dan udang-udangan; dengan tingkat gangguan tergantung pada tingkat penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan jenis serta fase fauna. Dengan demikian maka dalam kondisi konsentrasi oksigen terlarut menurun akibat dekomposisi; larva ikan batak dan jenis organisme lain akan lebih menderita ataupun mati.

Selanjutnya sisa pakan dan hasil metabolisme ikan berupa urine dan feses berupa limbah organik dari KJA PT.Aquafarm Nusantara  yang masuk ke badan air yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba anaerobik atau fakultatif yang menghasilkan sel-sel mikroba baru juga menghasilkan senyawa-senyawa CO2, NH3, H2S, dan CH4 serta senyawa lainnya seperti amin dan komponen fosfor. Asam sulfide (H2S) dan amin  adalah senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap, misalnya H2S berbau busuk dan amin berbau anyir. Selain itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk ikan batak.

Selain menyebabkan penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan menghasilkan senyawa beracun yang selalu merugikan dan dapat menyebabkan kematian fauna; dekomposisi juga dapat menghasilkan kondisi perairan yang cocok bagi kehidupan mikroba fatogen yang terdiri dari mikroba, virus dan protozoa (Polprasert, 1989), yang setelah berkembang-biak, setiap saat dapat menyerang dan menjadi penyakit yang mematikan ikan batak,  udang dan fauna lainnya.

Selain menurunkan konsentrasi oksigen terlarut, menghasilkan senyawa beracun dan menjadi tempat hidup mikroba patogen yang menyengsarakan fauna air; dekomposisi juga menghasilkan senyawa nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan. Nutrien merupakan unsur kimia yang diperlukan alga (fitoplankton) untuk hidup dan pertumbuhannya. Sampai pada tingkat konsentrasi tertentu, peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air akan meningkatkan produktivitas perairan (Garno, 2002); karena nutrien yang larut dalam badan air langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton  untuk pertumbuhannya sehingga populasi dan kelimpahannya meningkat (Garno, 2002). Peningkatan kelimpahan fitoplankton akan diikuti dengan peningkatan kelimpahan zooplankton, yang makanan utamanya adalah fitoplankton (Garno, 2002).


Sangat disayangkan bahwa jika peningkatan nutrien terus berlanjut maka dampak positif seperti itu hanya bersifat sementara bahkan akan terjadi proses yang berdampak negatif bagi kualitas badan air . Peningkatan konsentrasi nutrien yang berkelanjutan dalam badan air, apalagi dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan badan air menjadi sangat subur atau eutrofik (Henderson, 1987). Proses peningkatan kesuburan air yang berlebihan yang disebabkan oleh masuknya nutrien dalam badan air, terutama fosfat inilah yang disebut eutrofikasi.   Peningkatan kesuburan perairan Danau Toba telah terjadi yang salah satu penyebabnya adalah limbah PT.Aquafarm Nusantara.

Sesungguhnya eutrofikasi adalah sebuah proses alamiah yang terjadi dengan pelahan-lahan dan memakan waktu berabad-abad bahkan ribuan tahun; di mana badan air yang relatif tergenang seperti danau dan pantai tertutup mengalami perubahan produktifitas secara bertahap. Namun demikian, sejalan dengan besarnya limbah nitrogen dan posfor dari KJA PT.Aquafarm Nusantara   fenomena ini telah dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade seperti yang umum terjadi pada berbagai danau dan pantai (Goldman dan Horne,1983); bahkan beberapa tahun saja seperti eutrofikasi yang terjadi pada perairan waduk kaskade Citarum (Garno, 2002) dan beberapa minggu seperti eutrofikasi yang terjadi pada perairan tambak (Garno, 2004). Fenomena tersebut menunjukkan bahwa eutrofikasi memang telah menjadi masalah perairan umum di seluruh dunia.

Interaksi kompleks antara nutrien, fitoplankton dan zooplankton tersebut menyebabkan massa air yang mengalami eutrofikasi pada akhirnya akan didominasi oleh sejenis fitoplankton tertentu yang pada umumnya tidak bisa dimakan oleh fauna air terutama zooplankton dan ikan; termasuk karena beracun. Sebagai contoh yang nyata dari fenomena ini adalah dominasi Mycrocistis sp di waduk-waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur (Garno, 2002, 2004); dan dominasi Pyrodinium bahamense, lexandrium spp. dan Gymnodinium spp. di perairan pantai/pesisir waktu terjadi "red-tide. Suatu saat kasus ini kemungkinan akan terjadi jika KJA di perairan Danau Toba tidak memiliki usaha pngolahan lingkungan.

Selain merugikan dan mengancam keberlanjutan fauna akibat dominasi fito-plankton yang tidak dapat dimakan dan beracun; blooming yang menghasilkan biomasa (organik) tinggi juga merugikan fauna; karena fenomena blooming selalu diikuti dengan penurunan oksigen terlarut secara drastis akibat pemanfaatan oksigen yang ber lebihan untuk de-komposisi biomasa (organik) yang mati. Seperti pada analisis dampak langsung tersebut diatas maka rendahnya konsentrasi oksigen terlarut apalagi jika sampai batas nol akan menyebabkan ikan batak  dan fauna lainnya tidak bisa hidup dengan baik dan mati. Selain menekan oksigen terlarut proses dekomposisi tersebut juga menghasilkan gas beracun seperti NH3 dan H2S yang pada konsentrasi tertentu dapat membahayakan fauna air, termasuk ikan.

Selain badan air didominasi oleh fitoplankton yang tidak ramah lingkungan seperti tersebut diatas, eutrofikasi juga merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya, baik yang hidup di tepian (eceng gondok) maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itulah maka di rawa-rawa dan danau-danau yang telah mengalami eutrofikasi tepiannya ditumbuhi dengan subur oleh tanaman air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air lainnya. Hal ini sudah terjadi di Perairan Danau Toba.

Akhirnya, yang harus dimengerti dan disadari adalah bahwa karena Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan cahaya matahari sepanjang tahun; maka blooming (dalam arti biomasa alga tinggi) dapat terjadi sepanjang tahun.   Fenomena itulah yang menyebabkan badan-badan air (waduk, danau dan pantai) di Indonesia termasuk di Danau Toba yang telah menjadi hijau warnanya tidak pernah atau jarang sekali menjadi jernih kembali, tidak seperti di negeri 4 musim seperti Kanada dan Jepang yang blooming hanya terjadi di akhir musim semi dan panas. 

Kegiatan ekonomi seperti KJA  secara langsung memberikan tekanan yang cukup besar terhadap ekosistem Danau Toba, sehingga secara kumulatif dapat menurunkan daya dukung lingkungan. KJA PT. Aquafarm Nusantara yang investornya berasal dari Negara Swiss yang sangat mencintai lingkungan seharusnya memiliki komitmen terhadap kelestarian ekosistem Danau Toba dan memberikan contoh yang baik tentang implementasi sistem dan teknologi budidaya ikan yang berkelanjutan.

Hal yang sama bahwa sudah dapat dipastikan    keberadaan KJA merusak perairan Danau Toba jika PT. Aquafarm Nusantara tidak mengolah limbahnya. Jika ekosistem perairan Danau Toba telah rusak maka sangat sulit untuk memulihkannya atau memakan waktu yang sangat lama, yaitu lebih dari ratusan tahun.

Prosentase limbah nitrogen lewat urine yang tinggi  tersebut di atas dapat menyangkal PT. Aquafarm Nusantara  yang menyatakan bahwa limbah KJA dapat diatasi dengan adanya ikan pora-pora yang meningkat jumlahnya di sekitar KJA sebab ikan pora-pora kecil kemungkinannya menggunakan limbah nitrogen dalam bentuk urine. Walaupun demikian pernyataan itu perlu dilakukan kajian secara mendetail tentang efektivitas ikan pora-pora mengendalikan ilmiah  KJA termasuk kajian apakah ikan pora-pora dapat menggunakan limbah nitrogen dalam bentuk urine.

PT Aquafarm Nusantara pada    tanggal 30 Januari 2009 di seminar hasil  kajian  ini menyatakan bahwa berdasarkan evaluasi Auditor Lingkungan Internasional  kegiatan    KJA  PT.Aquafarm Nusantara  di perairan Danau Toba adalah ramah lingkungan. Mengingat tingginya konsentrasi limbah nitrogen dan posfor yang dihasilkannya dan belum adanya  usaha pengolahan limbah maka sangat perlu ditinjau kebenaran pernyataan tersebut dan diperoleh nama Lembaga Auditor Lingkungan Internasional yang dimaksud.

 Dikutip dari berbagai sumber, kegiatan KJA PT. Aqufarm Nusantara berdasarkan besarnya limbah yang dihasilkan belum tergolong kegiatan budidaya  berkelanjutan karena belum ramah lingkungan bahkan  sudah merupakan sumber pencemaran yang berpotensi untuk menurunkan kualitas lingkungan perairan Danau Toba  sehingga PT Aqufarm Nusantara harus sesegera mungkin untuk mengadakan  fasilitas upaya pengolahan lingkungan.

Sehubungan telah adanya Deklerasi Kesepakatan tentang Pengelolaaan Ekosistem Kawasan Danau Toba pada Juni 2004 oleh Pemangku Amanah Ekosistem Kawasan Danau Toba maka sudah sangat  perlu dilakukan  penelitian secara holistik oleh semua kabupaten yang terkait perairan Danau Toba tentang  sumber-sumber polutan termasuk kualitas dan kuantitasnya   yang mencemari  perairan Danau Toba serta strategi mitigasi pencemaran Danau Toba.(*tem/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru