SUMUT

NASIONAL

Jadilah Legenda, Komjen Agus Andrianto

Rabu, 17 Juni 2020 | 11.34 WIB
Kali Dibaca |


Catatan : Wiku Sapta
"Untuk Indonesia,  Teruslah bertahan, Walau dihancurkan dan disakiti,  Kau harus tetap berdiri,  Untuk Indonesia, Jadilah legenda, Kita bisa dan percaya!"

Lirik lagu milik band SID (Superman is Dead) ini sangat menginspirasi. Buat saya? Bisa ya, tapi terkhusus seorang calon Kapolri pengganti Jenderal Idham Azis, 2021 kelak.

Saya hanya meminjam sepenggal liriknya saja. Kenapa? Saya terangsang (menulis) lantaran agregasi kata Jadilah Legenda, bait keenam ya gais!
Saya tunjuk hidung langsung, Komjen Agus Andrianto, asanya kelak melegenda, sesuai pesan dalam lagu SID itu. Kenapa harus Agus ? Dia memang layak jadi legenda.

Ia adalah mantan Kapolda Sumatera Utara, pra Irjen Martuani Sormin Siregar dan pasca Irjen Paulus Waterpauw. Dialah jenderal yang paling hafal luar kepala tentang Sumut, Medan utamanya, dibanding pendahulu dan penyusulnya itu.

Menapaki karir polisinya saja, alumnus Akpol 89 ini rela ditempatkan di Sumbul, Dairi. Pernah mengomandoi Satuan Reserse Kriminal Poltabes, Direktur di Direktorat Kriminal Umum Polda Sumut dan posisi-posisi strategis lainnya, nilai plus buat perwira tinggi polisi kelahiran Blora Jawa Tengah itu.
Kasarnya, mulai bandit, penjahat, bajingan, orang licik, penjilat sampai pengkhianat dari hulu sampai hilir Sumatera Utara sekalipun, Agus tahu betul selera dan bagaimana cara menaklukannya. Itu karena dia sudah 'berkarat' dengan prilaku jelek (maaf; tak patut dicontoh) orang disini.

Hanya itu sepenggal kriteria menjadi legenda untuk Agus. Eit...tunggu dulu! Meski belum ada testimoni sahih, tapi dari hasil menguping sana sini, Agus dikenal sebagai tipikal pantang iba. Melihat orang susah, dia terisak merasakan. Ada yang sakit, dia prihatin. Jumpa warga yang galau, Agus sebisa mungkin menghalau.

Seorang teman menyebut, Agus adalah sosok pengingat baik dan buruknya seseorang. Membantu tak kepalang tanggung. Menindas orang-orang yang salah tak kenal istilah mundur.

Tipikal polisi pejuang. Pejuang yang dimaknai sebagai 'pemalu' yang hilang urat takutnya terhadap makhluk. Artinya, tidak akan berubah  menjadi pengecut ketika berhadapan dengan kejahatan-kejahatan semasif dan terstruktur apapun. Begitulah Agus.

Kita patutnya bersyukur, bangga dan bersimpatik, atas sosok jenderal seperti ini. Darahnya sudah berpadu Batak, Melayu dan Jawa. Putra daerah (lama bertugas hampir puluhan tahun di Sumut) yang namanya harum dimana-dimana. Bukan malah dicela, dibully dan dipinggirkan.

Miris saja mendengarnya. Satu putra terbaik disentil lewat distorsi gratifikasi tanpa bukti. Penyentil malah berasal dari sini. Sementara kandidat lain Komjen Ryco Amelzya Dhaniel dan Komjen Listyo Sigit Prabowo, bersih, seolah tanpa tabir. Mau ditaruh dimana muka kita ini? Orang terbaik yang mengakar lahir bathin disini, malah 'digoyang' orang sendiri.

Patut diingat dan bukan tidak disengaja, dia merupakan penoreh sejarah kepolisian dari Wakil Kepala menjadi Kepala Polisi Daerah Sumatera Utara. "Untuk Indonesia, Teruslah bertahan, Walau dihancurkan dan disakiti,  Kau harus tetap berdiri, Untuk Indonesia, Jadilah legenda, Kita bisa dan percaya!" (*)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru