Pengikut

SUMUT

NASIONAL


Kisah Getir Pejuang Yang Terlupakan

Kamis, 01 Juli 2021 | 13.29 WIB
Kali Dibaca |

Rumah Duka Baktiar Marpaung.

Porsea, metrokampung. com  
Hari ini, Kamis (1/7/2021) Baktiar Marpaung alias Lutik Marpaung tutup usia (55) tahun, ia adalah pejuang "Buka PT. Inti Indoryon Utama" ketika itu. 

Dirinya berjuang beserta kawan-kawan memperjuangkan PT.IIU tetap dibuka.
Hasil perjuanganya berhasil dengan  dibukanya kembali perusahaan bubur kertas itu menjadi 'mangilulu' atau (reinkarnasi ) menjadi PT. TPL, Tbk.
Tentu tak ada manis perjuangan seperti saat ini, dirinya tanpa mereka yang berjuang melawan pro tutup.



"Tapi tak selalu juga apa yang diperjuangkan dinikmati oleh para pejuang "kata Pendi Sitorus saat melayat di rumah duka. 

Dirinya menjelaskan, seorang veteran Muhammad Nuh, Warga Dusun Dalam, Kecamatan Utan sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat ini terpaksa harus hidup dalam penderitaan dan serba kekurangan. Ia tak memiliki apapun.

M.Nuh, adalah pengibar bendera merah putih di Tanah Sumbawa untuk pertama kalinya, ketika Indonesia merdeka. Ia mengibarkan sang saka Merah Putih di tanah Sumbawa, sesaat setelah pembacaan naskah Proklamasi oleh Presiden Soekarno.

Sayangnya, ia tak pernah mendapat perhatian pemerintah setempat. Dalam menjalani hidupnya, ia terpaksa harus turun tanpa penghargaan". Namun disayangkan, jika perjuangan harus mendapatkan ketidak adilan, alangkah nistanya kata Ependi". 

"Hal ini jga terkuak dari istri-istri para pihak ketiga pelaku rekanan PT. TPL, Tbk yang melayat di rumah duka. Mereka mengatakan, yang mengetahui sejarah pasti, bagaimana suasana melawan pro tutup hanyalah mendiang dengan kawan kawan.
 
Pada usia senja (56 tahun) itu, Baktiar Marpaung alias Lutik Marpaung harus berjuang menjalani hari-harinya melawan penyakit jantung yang perawatanya cukup tinggi, hingga akhir menutup mata "kata Sogar Manurung.(e/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru