PARIWISATA

NASIONAL

Warga Desa Gn Sinembah Geram Pengaspalan Terkesan Ngawur

Kamis, 20 Desember 2018 | 17.42 WIB
Kali Dibaca |


Gn Meriah - metrokampung.com
Sejumlah warga Desa Gunung Sinembah, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Deliserdang, geram setengah mati. Pasalnya, proyek pengaspalan hotmix di Dusun II desa mereka yang sedang dilaksanakan oleh pemborong dan telah hampir selesai terkesan dikerjakan 'seadanya'.

Kata warga di sana, lapisan aspal terlalu tipis sehingga disangsikan jalan tidak lagi kokoh dan mudah retak. Kemudian dilaksanakan saat kondisi cuaca mendung. Sehingga membuat jalan menjadi tidak awet, mudah rusak dan mubazir. Warga menganggap adanya tindak korupsi dalam proyek pengerjaan jalan tersebut.

"Proyek terindikasi ada kecurangan. Viral kan biar yang korupsi ketangkap. Hajar koruptor aspal jalan,''kata warga. Warga lainnya juga menyesalkan proyek pengaspalan jalan seperti ini. Selain bakalan terganggu saat melintas lantaran kondisi jalan yang buruk, juga jika memang ada indikasi penggelapan dana, tentu merugikan negara.

Parahnya lagi, sambung warga, proyek pengaspalan yang menelan biaya miliaran rupiah dengan lebar 3,5 meter dan panjang 1,5 km tidak ada plank proyek. Warga makin bertambah gondok, tatkala pihak pemborong tidak melakukan pengaspalan dimulai dari awal jalan dusun yakni pinggir Jalan Lintas Sumatera Gunung Meriah - Saranpadang (Simalungun) melainkan akan memundurkannya ke ujung jalan dusun.


"Ada sekitar 200 meter yang tidak di aspal. Pemborongnya bilang jalan yang tidak diaspal dari awal jalan dusun akan digantikan dengan yang berada di ujung pekerjaan. Kan remeh kali nampaknya pemborongnya ini. Sudahlah aspalnya tipis, tidak ada paretnya lagi. Sehingga kalo hujan jalanan jadi tergenang air,"timpal Tarigan, warga lainnya yang minta namanya dirahasiakan.

Pantauan wartawan metrokampung.com, jalan aspal yang tidak ada paretnya langsung berdindingkan tebing dan tanah warga. Sehingga di kala hujan turun, jalanan tergenang air. Ada juga bagian badan jalan jadi lintasan air yang turun meluncur dari tebing-tebing pinggir jalan. Kemudian air-air tersebut menuju seberang jalan menuju lembah.

“Kalau kondisi basah dan cuaca mendung dilakukan pengaspalan itu sudah menyalah,” kata seorang mantan pemborong ditemui di warung kopi tak jauh dari lokasi pengaspalan, Minggu (16/12/2018). Sejatinya, mekanisme pengaspalan harus dilaksanakan pada saat cuaca panas. Sehingga, material aspal yang digunakan tak gampang lekang atau merekat.

“Contoh kecil saja. Kalau sepatu dilem pas kondisi basah, pasti gak melekat. Sama halnya dengan aspal, kondisi basah dan mendung gak merekat. Jadi pantasnya harus cuaca panas. Dan suhu (curah) panas aspalnya sudah tidak sesuai lagi,” jelasnya. Selain itu, sebelum pengaspalan dilaksanakan, harus lebih dulu melakukan clearing dan grubbing atau pembersihan badan jalan dari sampah serta debu menggunakan air compresor. Selanjutnya, melakukan cor tack coat (lem perekat antara ATB dengan aspal hotmix) yang kemudian menghamparkan pelapisan menggunakan finisher dan pemadatan.

”Tapi faktanya gak ada tadi nampak dilakukan pembersihan. Langsung lem perekatnya disiram campur air hujan. Habis itu dilakukan penghamparan dan pemadatan,” jelasnya. Ironisnya, di lokasi pengaspalan, papan (plang) informasi kegiatan tak terlihat.

“Plangnya pun gak ada. Jadi gak tau berapa anggaran pengaspalan ini. Harus disoroti pemborongnya ini. Kalau tidak, suka-suka sistem pengaspalannya,” paparnya.

Kepala Bidang Peningkatan Jalan dan Jembatan (PJJ) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Deliserdang (DS), Ismail ST ketika dikonfirmasi berjanji akan menceknya lebih dulu.

"Aku akan cek dulu ya,"jawabnya. Ketika ditanya pada hari berikutnya kenapa terjadi perubahan pekerjaan, di awal jalan tidak diaspal melainkan ditambahkan di akhir pekerjaan karena lokasinya gampang, lagi-lagi Ismail berjanji akan menceknya.

“Saya cek dulu ya,” kilahnya. (dra)

Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru