PARIWISATA

NASIONAL

Pohon Kayu Tumbang Menimpa Badan Jalan, Kemacetan Medan – Berastagi Mengular Panjang, Bupati Karo: Tol/Peningkatan Jalan Medan – Berastagi Semakin Mendesak

Senin, 08 April 2019 | 20.31 WIB
Kali Dibaca |

Kondisi Jalan Medan – Berastagi macet total berkilo-kilo meter dari ke dua arah akibat pohon kayu tumbang ke badan jalan.

KARO - METROKAMPUNG.COM
Tuntutan untuk membangun jalan tol Medan-Berastagi semakin deras dan terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Soalnya, jalan Medan-Berastagi  yang ada saat ini sudah sangat tidak layak sebagai akses utama karena sering mengalami kemacetan.

Banyak  wisatawan  ke Kabupaten Karo kerap mengeluhkan “perangkap” macet tersebut. Maklum jalan pegunungan, badan jalan sempit dan berliku, apalagi  sering terjadi longsor, mobil terguling di badan jalan. Paling parah di musim penghujan, kerap terjadi pohon kayu yang tumbang ke badan jalan. Kondisi jalan yang berliku disertai tanjakan dan turunan tajam pun tak jarang membuat kendaraan, terutama truk dan bus, terguling dan hal itu terus menerus terjadi dan menghantui pengguna jalan.

Makanya, kemacetan panjang sering kali memerangkap pengendara di rute Medan – Berastagi. Otomatis sangat merugikan dunia pertanian, pariwisata dan dunia usaha Kabupaten Karo dan daerah lainnya.

Teranyar, Senin (8/4) Pukul 17.00 WIB, antrian kemacetan berkilo-kilo meter dari ke dua arah, baik dari arah Medan ke Kabupaten Karo maupun sebaliknya tidak terelakkan akibat longsor dan pohon kayu tumbang ke badan jalan. Mirisnya lagi kayu tersebut menimpa sebuah mobil inova warna hitam. Belum diperoleh informasi apakah ada korban jiwa atau tidak. Namun antrian kemacetan parah mengular dari ke dua arah.

Lokasi kejadian, seputaran tangkapan sumber mata air PDAM Tirtanadi-Sembahe tepatnya di Desa Sembahe Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deliserdang. Pantauan wartawan, hingga pukul 18.00 WIB, jalan masih macet total dari kedua arah, pembersihan lokasi sedang dilakukan pihak terkait.
Bupati Karo Terkelin Brahmana, SH kepada metrokampung, Senin petang (8/4), sepulang dari pembukaan opening Ceremony CSR PT WEP perbaikan jalan desa Rih Tengah - Ujung Deleng Kecamatan Kutabuluh, menghimbau masyarakat memanfaatkan jalur Karo – Langkat. Saya juga sebentar lagi mau ke Medan, akan menggunakan jalur Karo – Langkat," ujarnya.

Bupati Karo juga mengaku bahwasanya Tol Medan – Kabupaten Karo semakin mendesak mengingat pertambahan berbagai jenis mobil dan angkutan semakin melesat, sementara luas badan jalan tidak berubah.

Menguatkan hal itu (ususlan Tol atau peningkatan jalur Medan – Berastagi), Bupati Terkelin Brahmana, SH menuturkan sudah dua kali surat Pemkab Karo ke Kementerian PUPR dalam kaitan mendesak rencana pembangunan Tol atau peningkatan Jalan Medan – Berastagi.

Buktinya, Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) memberi sinyal menyetujui pembangunannya namun akibat keterbatasan dana, mungkin akan dilakukan pembangunan dua jembatan layang.

“Mari berdoa  pembangunan dua jalan akses Medan-Berastagi itu segera terwujud. Memang, kalau Sumbar punya Kelok 9, sudah seharusnya Sumut juga punya jalan tol yang melingkar di pegunungan menuju Kabupaten Karo,” harap Bupati Terkelin Brahmana.

Sementara tokoh masyarakat Kabupaten Karo, Robert Sinuhaji, SE, menjelaskan sudah sepatutnya  rute Medan-Berastagi  dapat dilintasi dengan  lancar dan nyaman,  mengingat desa Sembahe (kawasan pemandian alam) Hilpark Sibolangit sekitarnya dan kawasan Kabupaten Karo merupakan  kawasan wisata utama sekaligus sentra pertanian di Sumatera Utara.

“Apalagi jalan ini merupakan lintasan antar sejumlah kabupaten di Sumatera Utara dengan Provinsi Aceh, khususnya Aceh Tenggara dan Aceh Selatan,” kecamnya.

“Tetapi kenyataannya  kondisi  jalan tersebut selalu dikeluhkan masyarakat. Tanpa ada solusi konkret dan permanen seperti pembangunan bebas hambatan (Tol) atau jembatan layang. “Karena itu, sangat wajar sejumlah elemen masyarakat berteriak dan mendesak Pemprovsu dan Pemerintah Pusat memperhatikan secara serius kondisi jalan itu,” imbuh Robert Sinuhaji.

 Jalur padat Medan-Berastagi, sambung Robert Sinuhaji lagi, masih merupakan jalur strategis pariwisata dan pertanian serta pintu gerbang bagian utara masuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, meski sudah ada jalan alternatif dari Binjai ke Berastagi melalui Desa Telagah di Langkat.

“Kalau perkara sulit, mengingat jalan ke Berastagi diapit pegunungan, toh Kelok 9 di Sumatera Barat juga punya kontur hampir serupa, tapi berhasil dibangun sehingga perjalanan dari Bukittinggi ke Pekanbaru di Riau atau sebaliknya menjadi lebih lancar dan nyaman. Yang penting sekarang, political will Gubernur Sumatera Utara dan Pemerintah Pusat,” tuturnya.

Desakan membangun jalan tol Medan-Berastagi pun semakin kencang dan nyaring disuarakan oleh sejumlah pihak, seperti Ikatan Cendikiawan Karo (ICK) Sumatera Utara, Pemkab Karo maupun elemen lainnya, setelah pemerintah melalui Kementerian Pariwisata memasukkan Sumut sebagai satu dari  sepuluh daerah di Indonesia yang mendapat prioritas untuk pengembangan potensi pariwisatanya.

Sumut ditargetkan Kementerian Pariwisata bakal dikunjungi 1 juta wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2019, yang berarti  lima persen dari target nasional sebesar 20 juta wisman. Pertanyaanya, sambung Robert Sinuhaji, apakah target itu tercapai dengan kondisi jalan Medan – Berastagi ter-amat sering terjebak kemacetan parah, pungkasnya. (Amr/mk)

Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru