SUMUT

NASIONAL

Peringatan May Day di Tanjungbalai, SBSI Minta Upah Buruh Nelayan Sesuai UMK

Rabu, 01 Mei 2019 | 20.41 WIB
Kali Dibaca |

SAMPAIKAN : Sekretaris SBSI Seti Gea saat menyampaikan pernyataan sikap buruh pada peringatan Hari Buruh Sedunia didepan Sekretariat DPC. SBSI Jalan Pahlawan Komplek Terminal Lama Tanjungbalai, Rabu (1/5).

Tanjungbalai-metrokampung.com
Dalam peringatan hari buruh sedunia (May Day) yang jatuh pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya khususnya di Tanjungbalai, puluhan buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) meminta agar upah buruh khususnya bagi nelayan layak, sesuai UMK Tanjungbalai yaitu sebesar Rp. 2.601.073,- perbulan mengingat masyarakat daerah itu mayoritas sebagai nelayan.

Hal itu disampaikan Ketua DPC. SBSI Tanjungbalai Morlan Butar-butar diwakili Sekretaris Seti Gea dalam peringatan hari buruh, Rabu (1/5) yang digelar didepan sekretariat SBSI Jalan Pahlawan Komplek Terminal Lama Kota Tanjungbalai.

"Lahirnya Hari buruh 1 Mei 1898 lalu dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Hari itu menjadi kemenangan buruh. Dasar dan tujuannya adalah untuk memperjuangkan nasib para buruh. Untuk itu, kita meminta agar pemerintah dan perusahaan memperhatikan kesejahteraan buruh di Indonesia khususnya Tanjungbalai ini terlebih bagi nelayan yang masih jauh dari upah layak, " tegas Seti Gea sembari menyampaikan motto dan meneriakkan yel yel SBSI.

Seti Gea juga menyampaikan 22 tuntutan buruh, dan yang paling menonjol yaitu meminta kepada perusahaan agar memasukkan buruh sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan serta membayarkan upah buruh/pekerja dan nelayan sesuai UMK.

Selain itu, SBSI juga meminta pemerintah untuk menghapus sistem kerja kontrak dan Outsourcing, Revisi PP 78 tentang Pengupahan dan meminta pemerintah agar mencabut perusahaan yang melanggar UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan serta beberapa tuntutan lainnya.

Amatan metrokampung.com, peringatan hari buruh tahun ini berjalan damai dan dilaksanakan tanpa konvoi. Para buruh memperingatinya dengan berkumpul bersama instansi pemerintah  sembari berorasi menyampaikan aspirasinya didepan sekretariat SBSI dan dengan pengawalan kepolisian setempat.

Hadir dalam peringatan May Day itu, seluruh pengurus DPC. SBSI Tanjungbalai beserta para federasi dan PK SBSI, perwakilan Dinas Tenaga Kerja, Kesbangpol, Kapolres diwakili Kasat Intel AKP. Usrat Aminullah, DanLanal TBA diwakili Pasintel Kapt Laut M. Pohan.

Kadisnaker Tanjungbalai diwakili Kabid HI Tety Mangunsong dalam sambutannya sangat mengapresiasi dan mendukung perjuangan buruh yang selama ini dilakukan SBSI didaerah tersebut. "Selama ini, pemerintah sudah bersinergi dengan SBSI memperjuangkan buruh, dan masih terus berlanjut. Dan melalui peringatan hari buruh ini dapat meningkatkan hubungan Industrial yang harmonis dan dinamis di Tanjungbalai, "ucap Tety.

Kapolres Tanjungbalai diwakili Kasat Intel AKP. Usrat Aminullah dan Pasintel Lanal TBA Kapt Laut M. Pohan dalam sambutannya masing-masing juga mengapresiasi pelaksanaan hari buruh didaerah tersebut.

Ketua Panitia May Day Ucok Gondo, dalam kesempatan itu berterimakasih kepada seluruh pihak karena pelaksanaan hari buruh didaerah tersebut berlangsung dengan damai.

Mayday tahun ini tuntutannya masih sama, yaitu Hapus Sistem Kerja Kontrak, Hapus Outsourcing, Upah Layak dan Revisi UU tentang Pengupahan, jaminan kesehatan gratis, jaminan pendidikan gratis. Belum masuk pada tataran isu soal Perkuat BUMN sebagai garda ekonomi nasional, mendorong negara dalam menciptakan dan memperkuat industri nasional dengan membuat produk yg mampu diminati pasar dunia serta mempersempit produk asing menguasai pasar dalam negeri. Dan yg terakhir, negara harus berani mengkonsolidasikan buruh dengan memberikan kepercayaan terhadap kaum buruh dalam membangun serta mengelola BUMN sebagai lembaga bisnis negara.


Buruh adalah kelompok penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Mereka yg menggerakkan sistem produksi apapun. Namun sayangnya, mereka kebanyakan hanya bekerja di industri-industri swasta dan asingse bukan kerja di industri-industri milik negara. Ini salah satu bentuk ketidakpedulian pemerintah dalam mempertahankan kedaulatan ekonomi kita. Sistem pengelolaan seluas-luasnya diberikan kepada swasta dan asing. Sehingga sistem produksi kita lemah, dan kita kalah di dalam negeri kita sendiri. Negara membiarkan produk asing tersebar dan di konsumsi rakyat kita namun produk kita sendiri entah kemana.(laban/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru