SUMUT

NASIONAL

KEK Sei Mangkei : Objek Vital V.S. Lahan Beternak Lembu

Senin, 15 Juli 2019 | 20.59 WIB
Kali Dibaca |


Simalungun, metrokampung.com
Kawasan ekonomi khusus Sei Mangkei yang berada di kabupaten Simalungun dan meliputi 2 kecamatan, yaitu kecamatan Bandar dan Bosar Maligas.

Kawasan ekonomi yang merupakan proyek nasional berskala internasional yang nantinya diharapkan mampu mendongkrak naiknya ekonomi masyarakat tempatan dan ekonomi nasional seperti yang dikutip dalam pidato presiden Joko Widodo pada saat peresmian Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, bila diperhatikan hingga saat ini masih sangat jauh dari apa yang diharapkan masyarakat sekitar kawasan secara khususnya.

Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke diproyeksikan akan diisi oleh perusahaan-perusahaan Nasional dan Multi Nasional yang mana kawasan ini juga sudah didukung dengan adanya jalur kereta api dari dan ke pelabuhan bertaraf internasional di Kuala Tanjung, sangat jelas posisi KEK Sei Mangkei begitu strategis dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor yang seharusnya alasan ini sudah cukup menjadi daya jual kawasan ekonomi ini.

Namun hingga saat ini setelah lima tahun berdirinya satu tenant di kawasan KEK Sei Mangke yaitu PT.UOI (Unilever Oleo Chemical Indonesia) sangat disayangkan tidak segera diikuti berdirinya perusahaan-perusahaan lainnya semestinya menjadi bahan kajian khususnya bagi pihak pengembang kawasan dan tentunya disokong oleh pihak PTPN 3 sebagai penyedia lahan, sehingga saat ini masih hanya ada PT.UOI yang beroperasi walaupun dalam perjalanannya perusahaan ini diterpa banyak issu miring terkait dugaan pelanggaran peraturan lingkungan hidup yaitu dugaan pembuangan limbah tidak sesuai aturan dan juga diterpa issu sulitnya bagi para tenaga kerja lokal untuk diterima walaupun selevel Operator dan juga tercatat hingga hari ini CSR perusahaan ini juga tidak jelas adanya walaupun mengklaim memberikan CSR dalam bentuk bibit nilam namun kedua proyek nilam nya yaitu di desa Boluk dan Tembaan tidak diketahui bagaimana kelanjutannya.

Hal yang patut diduga menjadi penyebab lambatnya bertambah investor seharusnya menjadi kajian prioritas semua pihak stake holder yang ada di kawasan, ketika hal ini dicoba konfirmasi dengan pihak pengembang yaitu PT. KINRA, Windi Oktiadi kurang memberi respon, hanya menanyakan “Tujuannya apa pak? Yang dijawab reporter sebagai tugas jurnalis meminta apa pendapatnya dan selanjutnya Windi Oktiadi menjawab “Kalau mau sharing telfon saya jam 9 nanti pak,".

Namun hingga berita ini diturunkan yang bersangkutan tidak bias dihubungi , demikian hal yang sama dengan pak Rinaldi staf KINRA tidak juga bias dihubungi.

Namun ada hal yang sangat mengganggu pemandangan di wilayah kawasan yang nota bene adalah Objek Vital dimana seharusnya sudah dapat disterilkan dari hal-hal yang mengganggu kawasan baik dari segi operasional dan estetika, Namun pemandangan di areal Kawasan masih terlihat ternak lembu dan kerbau yang berkeliaran bebas di.areal kawasan KEK Sei Mangkei, sehingga kesan yang kita lihat  seperti lokasi beternak Lembu, kesan 'Kumuh' juga sangat jelas kelihatan , pemandangan ini seharusnya tidak terlihat lagi di kawasan yang sudah menjadi kategori 'Objek Vital'.

Kondisi ini kita yakini pasti mempengaruhi image bagi para calon investor dan masyarakat luas dalam melihat Kawasan Industri yang skala internasional, sangat disayangkan para stake holder dikawasan untuk mengatasi bebasnya berkeliaran ternak lembu saja tidak mampu sehingga kita dapat memahami “mengapa mereka tidak berhasil menarik para investor dan bahkan dapat dikatakan gagal melakukan percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei.

Kita harapkan pemerintah pusat turun tangan secara langsung untuk melakukan evaluasi terhadap semua pimpinan atau petinggi yang ada di Kawasan KEK Sei Mangkei yang dinilai tidak mampu membawa percepatan pegembangan kawasan, Direktur dan Pejabat di PT.KINRA sebagai pengembang kawasan sudah sepantasnya untuk di evaluasi karena dinilai gagal menduduki posisi tersebut sementara hasilnya “Nihil, dan juga sampai saat ini masalah tata kelola dan pengolahan sampah nya baik yang bersumber dari PT.UOI belum ada solusi yang jelas.

“Saya menilai mereka gagal bang, lihat saja hingga saat ini perusahaan yang berdiri baru hanya PT.UOI , tapi secara pribadi saya dapat memaklumi, karena kalau kita perhatikan untuk mengatasi bebasnya ternak lembu dan kerbau berkeliaran di areal kawasan saja mereka tidak mampu, bisa gak  abang bayangkan apalagi kemampuan dan kecakapan dalam menarik investor??” ungkap M.Sinaga sebagai ketua DPAC Ormas  Bara JP Kecamatan Bandar.

Lebih lanjut reporter menanyakan langkah apa kira-kira yang akan ditempuh selanjutnya sebagai organisasi yang nota bene adalah afiliasi Jokowi yaitu organisasi pemenangan Jokowi Presiden.

"Kita akan segera menyurati Bapak Presiden sebagai Pembina organisasi ini dan akan menyampaikan laporan yang kompleks terkait semua hal yg menjadi temuan kita selama ini, mulai dari tidak tertibnya tata kelola atau pengolahan sampah oleh pihak kawasan dan juga tidak adanya solusi hingga hari ini terkait genangan air yang diduga limbah buangan dari PT.UOI, kita mendesak agar segera Direktur dan Pejabat PT.KINRA untuk di evaluasi dan demikian juga para petinggi dari pihak-pihak terkait di KEK Sei Mangkei yang dinilai gagal atau tidak mampu agar segera di ganti,” tutup M.Sinaga dalam wawancaranya dengan reporter. (Tdy/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru