![]() |
| Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bertajuk "Pancasila Bagi Generasi Z dan Post Z" yang digelar di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Sitirejo I, Kecamatan Medan Kota.(ft/ist) |
Medan, Metrokampung.com
Anggota DPRD Kota Medan, Dodi Robert Simangunsong, mengingatkan para orang tua bahwa pembentukan karakter dan budi pekerti anak di era digital harus dimulai dari lingkungan rumah. Hal ini menjadi krusial di tengah besarnya tantangan gawai (gadget) yang dihadapi Generasi Z dan Post Z saat ini.
Pernyataan tersebut mengemuka dalam acara Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bertajuk "Pancasila Bagi Generasi Z dan Post Z" yang digelar di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Sitirejo I, Kecamatan Medan Kota, Sabtu (20/6/2026).
Dalam pemaparannya, Pendeta Rijen Lumbantoruan, menjelaskan bahwa Gen Z memiliki karakteristik unik karena sangat peka terhadap apa yang mereka lihat di media sosial. Oleh karena itu, pola mendidik anak zaman sekarang tidak bisa lagi sekadar mengandalkan perintah, melainkan harus lewat keteladanan nyata.
"Gen Z itu unik, mereka mencontoh apa yang dilihat, bukan apa yang diperintah. Tunjukkan dulu hal yang baik kepada mereka. Makanya, orang tua harus menjadi teladan," ujar Rijen.
Ia menilai, banyak anak saat ini mengalami tekanan psikologis karena merasa pendapatnya kerap diabaikan oleh orang tua. Menurut Rijen, mendengarkan aspirasi anak merupakan bentuk implementasi dari Sila Kedua Pancasila, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
"Di era kelimpahan informasi, anak-anak butuh didengar. Jangan langsung memarahi anak saat nilai rapor buruk, melainkan berikan motivasi," katanya menambahkan.
Senada dengan Rijen, Rebeca Hutahaean, menekankan bahwa ancaman pergaulan bebas dan dampak negatif gawai harus dibentengi dengan penguatan nilai agama serta norma sosial.
"Tantangan ke depan adalah jangan sampai kita kehilangan waktu bersama anak. Kita harus selalu hadir nyata untuk mereka," kata Rebeca.
Keluhan Warga Soal Kecanduan Gawai
Sesi diskusi berlangsung interaktif saat sejumlah warga menyampaikan keluh kesah mereka. Melani Tobing, warga Kelurahan Sitirejo I, mempertanyakan cara mengatasi anak Gen Z yang sulit diatur meski sudah diberi nasihat agama.
Merespons hal itu, Rijen memberikan solusi praktis berupa pemanfaatan aplikasi pengunci aktivitas gawai ("parental control") untuk membatasi durasi penggunaan ponsel anak. Namun, ia menekankan kontrol terbaik tetap ada pada sikap orang tua.
"Jangan melarang anak main HP kalau orang tuanya sendiri malah asyik main HP," tegasnya.
Sementara itu, warga lainnya, Melvi Siahaan, menyampaikan aspirasi agar kurikulum Pendidikan Moral Pancasila (PMP) era Orde Baru dihidupkan kembali oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Ia menilai nilai-nilai Pancasila mulai luntur akibat anak-anak kecanduan gawai.
Menanggapi usulan tersebut, Rijen mengungkapkan bahwa Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) saat ini memang sedang mengupayakan agar PMP kembali masuk ke dalam kurikulum nasional demi membentuk moral generasi muda. Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada kurikulum sekolah yang kerap berubah.
"Pendidikan karakter dan budi pekerti yang utama itu tetap berawal dari rumah," ujar Rijen.
Di akhir acara, Rijen juga berpesan kepada generasi muda agar menjauhi aksi perundungan ("bullying") serta memilah konten digital secara bijak. Orang tua juga diimbau membatasi penggunaan gawai pada anak usia sekolah dasar (SD) untuk mencegah ketergantungan.(Ra/mk)
