SILANGKITANG, metrokampung.com
Malam yang tenang di Desa Silangkitang - Sigurunggurung mendadak berubah menjadi mencekam. Pekatnya malam jumat seketika pecah oleh suara gemuruh dahsyat yang menggelegar dari kawasan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik 𝐒𝐚𝐫𝐮𝐥𝐥𝐚 𝐎𝐩𝐞𝐫𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧 𝐋𝐢𝐦𝐢𝐭𝐞𝐝 (𝐒𝐎𝐋), Kamis (4/6/2026) sekira pukul 20.15 WIB.
Gemuruh hebat yang menderu dari lokasi proyek yang berdiri persis di jantung pemukiman warga tersebut, memicu kepanikan luar biasa. Suara yang begitu menggelegar bagaikan kiamat kecil itu turut disertai bumbungan asap tebal yang membubung tinggi ke langit malam, menciptakan pemandangan yang mengerikan bagi mata yang memandang.
Spontan, kepanikan massal melanda desa. Anak-anak kecil menjerit dan menangis histeris di dalam pelukan ibunya yang dilingkupi ketakutan. Suasana semakin menyayat hati ketika sejumlah orang tua dan lansia dilaporkan mengalami syok berat hingga sesak dada, bahkan ada yang nyaris pingsan akibat jantungan mendengar gemuruh yang seolah meruntuhkan bumi tempat mereka berpijak.
"Kami sudah tidak tahan lagi! Suaranya seperti bumi mau runtuh. Anak-anak histeris, orang tua kami hampir jantungan!" teriak salah seorang warga di tengah kegelapan malam.
Dipicu rasa takut yang bercampur dengan amarah yang sudah lama terpendam, ratusan warga yang tak sanggup lagi membendung kekecewaan langsung bergerak merangsek mendatangi Pos Security SOL. Mereka menuntut jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding proyek yang terus-menerus merenggut ketenangan hidup mereka.
Masyarakat berhak mendapatkan lingkungan yang baik, sehat, dan nyaman selama proses pembangunan. Perlindungan ini diatur secara hukum dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, dan Pasal 28H ayat (1) UUD 1945. [1, 2, 3, 4, 5]
𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐃𝐢𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐏𝐫𝐨𝐲𝐞𝐤 𝐒𝐎𝐋
Kejadian mencekam ini bukanlah yang pertama kali. Bagi warga Silangkitang, teror suara gemuruh ini sudah berulang kali terjadi, merenggut hak mereka atas rasa aman dan kenyamanan. Namun yang paling menyakitkan bagi warga adalah sikap bungkam dari manajemen SOL. Hingga kini, nyaris tidak pernah ada klarifikasi publik ataupun permohonan maaf resmi yang disampaikan perusahaan kepada masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang kecemasan tersebut.
Sebelum berita ini diturunkan, pihak awak media telah melayangkan konfirmasi langsung lewat WA kepada Humas SOL, guna meminta penjelasan resmi terkait insiden tersebut dan bagaimana tanggung jawab perusahaan terhadap dampak psikologis maupun kesehatan warga sekitar. Namun, hingga saat ini, masyarakat masih menunggu dengan cemas di tengah malam yang tidak lagi menjanjikan kedamaian.
Laporan : Jufri Panjaitan
Editor : Simon Sinaga
