KARANGANYAR, metrokampung.com
Perayaan umat Hindu di Jawa Tengah dalam memperingati Hari Raya Suci Pagerwesi dipusatkan di Kompleks Candi Cetho, Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Candi Hindu peninggalan akhir era Majapahit yang berada di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl), di lereng Gunung Lawu, menjadi pusat pemujaan kepada Hyang Pramesti Guru. Pagerwesi dimaknai sebagai momentum memohon keselamatan alam beserta seluruh isinya sekaligus memperkuat spiritualitas dan keteguhan diri.
Dalam perayaan tersebut, turut hadir dua tokoh lintas organisasi yang menyampaikan pesan refleksi dan makna Pagerwesi bagi kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, serta menjaga keberagaman.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perkumpulan Advokat Moeslimin Indonesia (PERADMI) Jawa Tengah, KRT AD Anggoro, SE., SH., menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Raya Suci Pagerwesi.
“Selamat memperingati Pagerwesi. Semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melimpahkan kesehatan, kelancaran, dan kekuatan dalam memimpin, serta mengabdi kepada masyarakat.”
Menurut AD Anggoro, esensi Pagerwesi yang bermakna ‘pagar besi’ sangat relevan dengan profesi advokat. Advokat Moeslimin harus memiliki pagar diri berupa iman, ilmu, dan integritas untuk menjaga Dharma serta menegakkan keadilan di tengah masyarakat.
“Pagar besi itu bukan fisik, tetapi pagar ilmu dan moral. Sebagai advokat, kita memagari diri agar tidak menyimpang dari kebenaran,” tegas KRT AD Anggoro.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia Jawa Tengah, Teguh Pambudi, M.Pd., menekankan pentingnya peran pemuda dalam menjaga nilai-nilai spiritualitas, toleransi, persatuan, dan kearifan lokal.
Selama ini, Teguh Pambudi juga aktif membangun sinergi dengan Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Peradah di seluruh Jawa Tengah.
“Dari Candi Cetho kita diajarkan bahwa Pagerwesi adalah momentum untuk yoga semadhi, menenangkan pikiran dan menguatkan widya. Pemuda Hindu harus menjadi pagar hidup yang menjaga toleransi, persatuan, dan kearifan lokal di Jawa Tengah,” ujar Teguh Pambudi.
Hari Raya Pagerwesi diperingati setiap 210 hari sekali, yakni empat hari setelah Hari Raya Saraswati. Pagerwesi dimaknai sebagai hari untuk memperkuat perlindungan diri melalui ilmu pengetahuan suci, kebijaksanaan, dan nilai-nilai Dharma agar terhindar dari pengaruh buruk.
Kedua tokoh tersebut sepakat bahwa dari tempat suci Candi Cetho, pesan Pagerwesi hendaknya menjadi pengingat bersama bahwa Jawa Tengah merupakan rumah bagi keberagaman yang harus dijaga dengan semangat gotong royong, toleransi, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa nilai-nilai spiritualitas dan moralitas dapat menjadi landasan kuat dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, damai, dan saling menghormati.(marolop/mk)
