SUMUT

NASIONAL

Ngopi Edukasi di Kampung Kopi Festival Bunga dan Buah 2019

Minggu, 07 Juli 2019 | 16.20 WIB
Kali Dibaca |

Nuansa nyaman di Kampung Kopi Festival Bunga dan Buah 2019 dengan settingan alam pedesaan.

KARO, METROKAMPUNG.COM
Para pengunjung Festival Bunga dan Buah 2019 yang digelar selama 3 hari di areal Taman Mejuah Juah Berastagi Kabupaten Karo serasa  dimanjakan dengan sajian seruput kopi Karo bernuansa perkampungan yang adem dan asri.

Bukan hanya  kopi , sajian minuman lain juga disediakan seperti susu kambing dan cemilan ringan juga tersaji untuk dinikmati dengan diiringi live musik acoustik penyanyi artis lokal di mini stage di pojok kampung kopi.

Ngopi keren bernuansa kampung merupakan tema yang disajikan Asosiasi Pelaku Kopi Karo (AP2K),  Selain menyediakan seruput kopi, AP2K juga menyajikan edukasi pertanaman dan coaching room (ruang pembinaan-red).


Salah satu proses Roasting kopi di kampung kopi.

“Asosiasi terpanggil untuk ikut serta dalam penyelanggaraan even ini. Selain sebagai peserta, kami juga merasa perlu mengadakan edukasi lapangan walau dalam skala kecil. Baik itu mulai dari proses pembibitan, budi daya serta perawatan, dan pasca panen sampai kopi siap disajikan,” ujar Ketua AP2K, Antoni Bangun,, Minggu (7/7/2019).

Menurutnya, keikutsertaan asosiasi dalam event Festival Bunga dan Buah kali ini, sengaja menyajikan nuansa ngopi pedesaan. Lokasi yang dipilih di sekitar pepohonan, dengan tempat menyeruput kopi bertiang bambu, beratap rumbia. Di yakini menambah keren suasana. Nuansa khas yang dibangun, ditargetkan menarik minat pengunjung untuk mampir.

“Ketika pengunjung melintas, tentunya mereka melihat nuansa yang berbeda dengan tempat lainnya di event ini. Petani, pecinta kopi, dan masyarakat, kita harapkan singgah. Dari kehadiran pengunjung di tempat kita. Kami dapat menunjukan sampel berbagai varietas bibit hingga proses. Termasuk cara bertani berternak sebagai sarana penunjang pertanaman kopi. Ini yang mau sampaikan kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Intinya lanjut, Antoni Bangun, dalam event ini pihaknya berupaya untuk lebih mengenalkan proses budidaya kopi untuk peningkatan kesejahteraan petani Tanah Karo. Dimana proses selama ini yang masih kurang maksimal, agar kedepannnya ditingkatkan. Sehingga melalui perlakuan yang tepat dan standart, nilai jual Kopi Karo semakin meningkat dan menambah pendapatan perkapita petani dan pelaku.

“Memang ini bukan hal yang mudah. Butuh waktu untuk pembenahan dari hulu hingga hilir. Bukan menuduh, tetapi mungkin selama ini ada peran mafia kopi dibalik harga dan minimnya eduksi terhadap petani. Secara perlahan coba kita luruskan. Apabila kita sudah mampu menhasilkan produk standart, mengapa proses transaksi Kopi Karo, tidak dilakukan di pusat produksinya. Ini salah satu target yang akan kita kejar,’ beber Antoni.

Disela sela perbincangan dengan metrokampung.com, seorang warga desa Merek Kecamatan Merek bermarga Munte terlihat datang menghampiri Antoni. Diawali salam "Mejuah Juah" keduanya terlihat larut dalam perbincangan terkait pola tanam Kopi.

Perbincangan yang berhasil dirangkum dari kedua pria ini bukan hanya seputar mulai dari bibit, pertanaman, budi daya, dan proses pasca panen
 sampai ke tingkat panen dan pemasaran ke tingkat Nasional hingga mancanegara.

Kepada petani asal desa Merek ini Antoni menjelaskan,  “Keberadaan AP2K, di event ini  diharapkan dapat membantu dari segi edukasi. Beberapa ekor kambing yang dihadirkan, tentunya membuka mata petani kita untuk menjadi petani peternak. Sebenarnya boleh hewan apa saja, tetapi dalam proses pertanaman kopi. Persandingan antara kopi, lamtoro, dan kambing sudah cukup tepat guna dan sasaran. Kopi sebagai tanaman utama, lamtoro pelindung dan pakan ternak yang mengandung protein tinggi. Kotoran kambing sebagai kompos,’ beber  Antoni.(Amr/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru