SUMUT

NASIONAL

Bupati Karo dan Istri Jualan di Pajak Buah Berastagi

Kamis, 01 Agustus 2019 | 19.05 WIB
Kali Dibaca |

Terkelin Brahmana dan Istri tampak berjualan buah di pajak buah Berastagi.

KARO - METROKAMPUNG.COM
Sungguh malang nasib Terkelin Brahmana dan istri, Pasutri ini harus rela berjualan buah di Pasar Buah Berastagi, Kamis (01/7/2019).

Meskipun seharian harus berjualan untuk menghabiskan dagangannya. Mereka tetap semangat menyusun dengan rapi buah yang dijual untuk menarik para pembeli.

Tapi tunggu dulu, profesi ini hanyalah bagian dari adegan untuk pembuatan film 'Sang Prawira ' yang akan tayang di bioskop tanggal 1 Oktober 2019.

Bupati Karo, Terkelin Brahmana dan istri Ny. Sariati saat dikonfirmasi wartawan mengaku merasa keletihan dan nyaris bosan. Sebab adegan yang diperankannya itu dilakukan secara berulang-ulang yang memakan waktu hingga berjam-jam lamanya.

"Karena selain tidak biasa, peran yang dilakoninya waktunya sangat mepet. Secara tiba-tiba tak ada latihan dan dilakukan secara berulang-ulang, sehingga perasaan menjadi capek dan bosan," terangnya.

Namun begitu, syuting film layar lebar ini dapat berlangsung dengan baik. Termasuk saat melakukan dialog berbahasa Inggris dengan sepasang wisatawan bule asal negeri Belanda saat berbelanja buah.

Usai shooting babak awal, tak lupa, Terkelin Brahmana bersama istri yang berperan menjual buah di kios Asido, mengajak seluruh masyarakat untuk menontonnya di bioskop-bioskop diseluruh Indonesia. Karena film ini sangat bagus ditonton untuk memotivasi dan memajukan pemuda Indonesia untuk menggapai cita-citanya.

Pantauan wartawan, dipenghujung shooting film, Bupati dan istri, serta kru film foto bersama sekaligus mengambil gambar video untuk dimuat dimedia sosial you tube. Direncanakan lanjutan pembuatan film Sang Prawira ini akan dilanjutkan pukul 16.00 WIB, dengan melibatkan peran pendukung Kapolres Tanah Karo AKBP Benny Remus Hutajulu SIK.

Dikutip dari berbagai sumber, film Sang Prawira ini menyuguhkan pergulatan sebuah keluarga di mana antara isteri dan suami tidak sepaham dalam merancang masa depan anaknya ketika anaknya duduk dibangku SMA.

Si ibu, ingin menuruti kemauan anaknya jadi polisi sementara si bapak lebih condong anaknya bekerja di luar negeri agar dapat menolong keuangan keluarga yang selama ini tergolong miskin.

Ide cerita film ini lahir dari para pejabat Utama Polda Sumut yang didukung oleh Wakapolda Sumut, Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto kemudian diperkaya oleh Kapoldasu, Irjen. Pol. Agus Andrianto, terutama tentang sosok seorang polisi yang berani dan tangguh. Serta ada muatan pesan moral pedagogis (strategi pembelajaran) kepada masyarakat.

Disutradarai Ponty Gea, film layar lebar ini selain menampilkan profesionalisme polisi dalam menjalankan tugas, juga memperkenalkan berbagai kultur masyarakat dan destinasi wisata serta membangun rasa nasionalisme.

Yang hebatnya lagi, lokasi syuting mengambil 130 titik dan tersebar di beberapa daerah seperti Karo, Simalungun, Tobasa, Humbahas, Asahan, Tanjung Balai, Sibolga, Nias, Medan, Semarang (Akpol) dan Jakarta (Mabes Polri).

Dan di film ini juga akan diperankan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang berperan sebagai pengajar berpangkat Kombes di Akpol Semarang.(amr/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru