SUMUT

NASIONAL

Seputar Wacana Propsu Wisata Danau Toba Bersiaryah, Mengundang Polemik Dari Anak Rantau Toba

Rabu, 04 September 2019 | 12.27 WIB
Kali Dibaca |

Dolok Panjaitan, salah seorang putra Tapanuli di Papua. 

Tobasa, metrokampung.com
Wacana Pemprov Sumut dengan wisata halal di Danau Toba kini menuai pro dan kontra.

Sejumlah dukungan pun mengalir, bahkan, tak sedikit juga yang melakukan protes hingga berbagai elemen masyarakat melakukan unjuk rasa di depan kantor Gubernur Sumut, Senin (02/9/19).

Opini merebak, salahsatunya wacana wisata halal di kawasan wisata Danau Toba bakal memisahkan kemajemukan yang selama ini terjalin baik.

Dituding ada sejumlah pihak yang dianggap tidak menghargai situs sejarah yang telah jutaan tahun silam di daerah Toba itu.

Kini pariwisata di kawasan danau Toba tak terhindarkan dari basis budaya Batak dan ke-Nasranianya yang seyogyanya harus dipertahankan sebagai ciri khas.

Dolok M Panjaitan salah seorang putra  daratan Danau Toba yang bermukim di Papua menegaskan, seperti dikutip Orbit Digital '3/9/2019' konsep wisata kawasan Danau Toba adalah berbasis budaya.

Ia menyebut, binatang babi merupakan salah satu simbol adatnya.

Di setiap acara atau kegiatan budaya Batak, daging babi kerap diletakkan di tengah kumpulan warga yang menyelenggarakan pesta.

Karenanya, ciri khas ini justru mesti dipertahankan bahkan dipromosikan sebagai kekayaan kuliner setempat.

“Saya, Dolok M Panjaitan, sebagai warga batak perantau di Papua yang sangat kental dengan tradisi ini, sangat terusik dengan ide atau wacana wisata halal jika diterapkan di tanah lelulur saya,” tegasnya.

Warga kawasan danau Toba sangat menjunjung budaya, Pancasila sebagai lambang negara dan menghargai keberagaman suku dan agama ketusnya.

Sebab pada pesta batak, untuk menghargai perbedaan, selalu disediakan hidangan yang sesuai aturan agama pada para tamunya.

"Sesungguhnya,  konsep halal dan haram tidak pernah diatur dalam dasar hukum Indonesia.

“Konsep halal dan haram ini malah bisa menimbulkan kesombongan rohani antara kelompok agama,” katanya.

Ia mengacu pada ketentuan organisasi turis dunia, UNWTO, bahwa keparawisataan seharusnya menghormati keaslian sosial-budaya masyarakat setempat.

“Melestarikan warisan budaya dan nilai-nilai tradisional yang dibangun dan hidup, serta berkontribusi pada pemahaman dan toleransi antar budaya,” ujarnya.

Wisatawan mancanegara bukan hanya berasal dari Malaysia dan Brunei saja.

“Berdasarkan website Badan Pusat Statistic Provinsi Bali tahun 2017, negara penyumbang wisatawan kita adalah China (1.356.412), Australia (1.062.039), India (264.516), Jepang (249.399), Inggris(240.633), Amerika (189.814), Perancis (176.710), Jerman (176.470), Korsel (161.765),” katanya.

Ia membandingkan dengan Thailand, sebuah negara di Asia Tenggara yang cukup fantastis menarik wisatawan mancanegara.

“Sehingga alasan wacana wisata halal untuk menarik atau meningkatkan jumlah wisatawan adalah wacana sia-sia yang tidak berdasar,” terangnya.

Dolok menyebut, apa yang harus dibenahi dari Danau Toba adalah promosi logistik, pembenahan infrastruktur dan kemudahan lain bagi wisatawan.

“Itu yang harus ditingkatkan dan disokong oleh pemerintah, juga masalah pencemaran lingkungan harus diatasi,” tegasnya.(e/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru