SUMUT

NASIONAL

Gubsu Ingatkan TNI harus Jadi Kebanggaan Rakyat

Senin, 07 Oktober 2019 | 09.06 WIB
Kali Dibaca |

Pangdam I Bukit Barisan bersama Kapoldasu usai upacara HUT TNI ke 74 

Mistar, metrokampung.com
Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi menyampaikan pesannya kepada prajurit TNI, yang saat ini merayakan ulang tahun ke 74. Dia menegaskan, TNI harus jadi kebanggaan rakyat Indonesia.

“Kalian adalah kebanggaan rakyat,” katanya dalam upacara peringatan HUT TNI ke 74 di Lapangan Udara Soewondo, Medan, Sabtu (5/10).

Begitupun, kata mantan Pangdam I Bukit Barisan ini, prajurit TNI tak akan bisa menjadi kebanggaan rakyat, jika mereka tak hadir di masyarakat, tak hadir untuk membantu masyarakat. TNI, kata dia, tak akan ada artinya tanpa rakyat.

Mantan Pangkostrad ini mengibaratkan TNI dan rakyat bagaikan ikan dan air.  Ikan tidak dapat hidup jika tidak ada air,  begitu juga TNI tidak akan ada kalau tidak ada rakyat.

"TNI dan rakyat ibarat ikan dan air. TNI adalah ikan, air itu rakyat. Bisa kita bisa pikirkan kalau ikan itu tidak ada airnya bisa mati. Itulah TNI dan Rakyat," ucap Edy.

Diibaratkan sebagai ikan dan air, sehingga kata Edy, menjadi kewajiban TNI untuk melindungi dan kemudian membantu masyarakat.

Dalam Peringatan HUT ke 74 TNI yang bertema TNI Profesional Kebanggaan Rakyat bertindak sebagai inspektur upavara Pangdam I Bukti Barisan Mayjen TNI Sabrar Fadhillah. Dalam kesempatan itu Pangdam membacakan amanat Panglima TNI yang menekankan tantangan yang saat ini dihadapi oleh TNI.

“Ada banyak tantangan kita bersama. Kita percaya bahwa dengan bergandengan tangan, semua masalah mudah diatasi,” katanya.

TNI sendiri, kata dia, berupaya meningkatkan kualitas, alutsista serta SDM. Kemajuan jaman dan teknologi yang kian pesat saat ini, jangan sampai mengilangkan jatidiri prajurit sebagai TNI, sebagai pejuang dan sebagai pelindung rakyat.

“Di sisi lain, juga mewaspadari ancaman-ancaman ke depan yang makin kompleks, yang semakin tidak ringan,” ucapnya.

Ancaman-ancaman itu, kata dia, bukan seperti dulu, perang fisik dengan senjata, tetapi terjadi perang yang tak kasat mata. “Ada perubahan dimensi waktu. Situasi kelihatannya damai. Padahal di situ kita sedang perang. Perang siber, perang terhadap berita palsu, dan hal lain,” pungkasnya.(dra/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru