SUMUT

NASIONAL

PB HMI HARUS MEWANTI-WANTI PENUMPANG GELAP PASCA PUTUSAN SATU KONGRES

Sabtu, 14 Maret 2020 | 16.52 WIB
Kali Dibaca |


Sumut, metrokampung.com
Dinamika Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam akhirnya mencapai titik temu dan PB HMI HARUS MEWANTI-WANTI PENUMPANG GELAP PASCA PUTUSAN SATU KONGRES.

Dinamika Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam akhirnya mencapai titik temu dan titik sepakat, dimana Respiratori Saddam Al-jihad mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua umum PB HMI hasil kongres XXX Ambon.

Saya sendiri ingin memuji pengunduran diri itu dari dua sudut pandang; pada sisi Saddam Al-jihad, meski sebagian orang berpandangan bahwa keputusan ini adalah keharusan, namun kelegaan yang diucapkan dan dilaksanakan dalam pertemuan bersama itu harus diakui sebagai "yang heroik". Bolehlah kita menyebutnya Harakiri yang dalam tradisi Samurai dipandang sebagai suatu kehormatan yang memiliki sisi metafisikanya sendiri. Dalam Islam, saya hanya bisa berdoa agar RSA diberikan keberkahan dan keridhaan oleh Yang Maha Agung; Allah.

Dari sisi Arya Kharisma Hardy, pengunduran diri Saddam Al-jihad merupakan suatu proses panjang yang melibatkan banyak orang yang berjuang untuk suatu keyakinan bersama, kesepakatan bersama dan hasil dari Ijtihad konstitusional yang secara terus-menerus diikhtiari dalam nafas ke-HMI-an.

Dalam tulisan ini, saya ingin lebih jauh mengeksplorasi kongres HMI XXXI yang akhirnya bersatu ini dalam kacamata yang lebih kompleks sampai pada tahap yang "mungkin" berpeluang disusupi oleh para penumpang gelap, untuk memperpanjang dualisme dengan dalih mendasarkan dualisme itu pada konstitusi yang sebenarnya "pseudo-constitution".

Saya menyebutnya demikian, karena bagi saya pada taraf apa pun, konstitusi memiliki fungsi utama mempersatukan dan mengintegrasikan sendi sendi keorganisasian meski ia juga memberi batasan-batasan tertentu bagi berjalannya organisasi yang sehat. Dan karena alasan ini lah perpecahan yang "mungkin" dilakukan oleh para penumpang gelap itu tak akan pernah mendapatkan legitimasi pada sisi konstitusi.

Pertanyaannya kini, bagaimana tentang cabang-cabang yang sangat mungkin menjadi korban para penumpang gelap ini? Demikianlah kita harus menyadari bersama bahwa memang ada beberapa cabang yang meski jumlahnya sangat sedikit, juga ikut mengalami perpecahan. Untuk menghindari berhasilnya pekerjaan para penumpang gelap ini, langkah lanjutan yang harus diambil Arya Kharisma Hardy sebagai PJ. Ketua Umum yang sah dan disahikan oleh R.Saddam Aljihad, adalah mengambil kebijakan untuk penyelesaian konflik cabang sembari menjalankan roda keorganisasian bagi suksesnya kongres XXXI di Surabaya nanti.

Kebijakan yang akan diambil menyangkut cabang-cabang meski harus diputuskan secara cepat ia juga harus melibatkan kebijaksanaan yang ikut luruh sampai pada level para pengurus cabang di tiap-tiap badko. Kebijaksanaan yang diambil para tokoh, alumni dan seluruh fungsionaris PB HMI harapannya dapat meresap ke seluruh batang-tubuh keorganisasian ini bahkan sampai ke tingkat yang paling Grassroot yakni komisariat.

Selain itu para penumpang gelap ini juga sangat mungkin mencari celah dengan cara masuk ke dalam pikiran fungsionaris PB HMI yang belum berkesempatan mengkandidasi diri sampai pada waktu ini. Hal ini juga membutuhkan kebijaksanaan dari Arya Kharisma Hardy sebagai pemimpin tertinggi PB HMI serta seluruh fungsionarisnya berikut yang terhimpun di dalam Steering Commite, Panasko sampai pada level MPK-PB HMI.

Saya merasa para kandidat yang telah mengambil formulir sampai hari ini akan lebih legowo menghadapi keputusan apa pun dari seluruh pemangku kebijakan Kongres XXXI demi persatuan yang memang telah diimpikan bersama. Keputusan-keputusan yang mungkin diambil untuk menutup celah bagi permainan para penumpang gelap ini mestilah dipenuhi dengan kebijaksanaan dan kesadaran bersama tentang pentingnya mempertahankan Himpunan dari gempuran irasionalitas yang sangat mungkin menyerang kita lagi dan lagi.

Di akhir tulisan ini, saya secara khusus ingin memohon keridhaan Allah agar himpunan ini senantiasa diliputi keberkahan dari Sang Nabi; Almusthafa Muhammad Saw dan para Sholihin serta seluruh hunafa' yang pernah berjuang untuk Himpunan Mahasiswa Islam.

*Bambang Pontas Rambe*
*Wasekjen Bidang Pembinaan Anggota PB HMI*
*_Bukan kandidat di Kongres XXXI_*titik sepakat, dimana Respiratori Saddam Al-jihad mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua umum PB HMI hasil kongres XXX Ambon.

Saya sendiri ingin memuji pengunduran diri itu dari dua sudut pandang; pada sisi Saddam Al-jihad, meski sebagian orang berpandangan bahwa keputusan ini adalah keharusan, namun kelegaan yang diucapkan dan dilaksanakan dalam pertemuan bersama itu harus diakui sebagai "yang heroik". Bolehlah kita menyebutnya Harakiri yang dalam tradisi Samurai dipandang sebagai suatu kehormatan yang memiliki sisi metafisikanya sendiri. Dalam Islam, saya hanya bisa berdoa agar RSA diberikan keberkahan dan keridhaan oleh Yang Maha Agung; Allah.

Dari sisi Arya Kharisma Hardy, pengunduran diri Saddam Al-jihad merupakan suatu proses panjang yang melibatkan banyak orang yang berjuang untuk suatu keyakinan bersama, kesepakatan bersama dan hasil dari Ijtihad konstitusional yang secara terus-menerus diikhtiari dalam nafas ke-HMI-an.

Dalam tulisan ini, saya ingin lebih jauh mengeksplorasi kongres HMI XXXI yang akhirnya bersatu ini dalam kacamata yang lebih kompleks sampai pada tahap yang "mungkin" berpeluang disusupi oleh para penumpang gelap, untuk memperpanjang dualisme dengan dalih mendasarkan dualisme itu pada konstitusi yang sebenarnya "pseudo-constitution".

Saya menyebutnya demikian, karena bagi saya pada taraf apa pun, konstitusi memiliki fungsi utama mempersatukan dan mengintegrasikan sendi sendi keorganisasian meski ia juga memberi batasan-batasan tertentu bagi berjalannya organisasi yang sehat. Dan karena alasan ini lah perpecahan yang "mungkin" dilakukan oleh para penumpang gelap itu tak akan pernah mendapatkan legitimasi pada sisi konstitusi.

Pertanyaannya kini, bagaimana tentang cabang-cabang yang sangat mungkin menjadi korban para penumpang gelap ini? Demikianlah kita harus menyadari bersama bahwa memang ada beberapa cabang yang meski jumlahnya sangat sedikit, juga ikut mengalami perpecahan. Untuk menghindari berhasilnya pekerjaan para penumpang gelap ini, langkah lanjutan yang harus diambil Arya Kharisma Hardy sebagai PJ. Ketua Umum yang sah dan disahikan oleh R.Saddam Aljihad, adalah mengambil kebijakan untuk penyelesaian konflik cabang sembari menjalankan roda keorganisasian bagi suksesnya kongres XXXI di Surabaya nanti.

Kebijakan yang akan diambil menyangkut cabang-cabang meski harus diputuskan secara cepat ia juga harus melibatkan kebijaksanaan yang ikut luruh sampai pada level para pengurus cabang di tiap-tiap badko. Kebijaksanaan yang diambil para tokoh, alumni dan seluruh fungsionaris PB HMI harapannya dapat meresap ke seluruh batang-tubuh keorganisasian ini bahkan sampai ke tingkat yang paling Grassroot yakni komisariat.

Selain itu para penumpang gelap ini juga sangat mungkin mencari celah dengan cara masuk ke dalam pikiran fungsionaris PB HMI yang belum berkesempatan mengkandidasi diri sampai pada waktu ini. Hal ini juga membutuhkan kebijaksanaan dari Arya Kharisma Hardy sebagai pemimpin tertinggi PB HMI serta seluruh fungsionarisnya berikut yang terhimpun di dalam Steering Commite, Panasko sampai pada level MPK-PB HMI.

Saya merasa para kandidat yang telah mengambil formulir sampai hari ini akan lebih legowo menghadapi keputusan apa pun dari seluruh pemangku kebijakan Kongres XXXI demi persatuan yang memang telah diimpikan bersama. Keputusan-keputusan yang mungkin diambil untuk menutup celah bagi permainan para penumpang gelap ini mestilah dipenuhi dengan kebijaksanaan dan kesadaran bersama tentang pentingnya mempertahankan Himpunan dari gempuran irasionalitas yang sangat mungkin menyerang kita lagi dan lagi.

Di akhir tulisan ini, saya secara khusus ingin memohon keridhaan Allah agar himpunan ini senantiasa diliputi keberkahan dari Sang Nabi; Almusthafa Muhammad Saw dan para Sholihin serta seluruh hunafa' yang pernah berjuang untuk Himpunan Mahasiswa Islam.

*Bambang Pontas Rambe*
*Wasekjen Bidang Pembinaan Anggota PB HMI*
*_Bukan kandidat di Kongres XXXI_*
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru