𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐥𝐢𝐧 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐠𝐞𝐥𝐚𝐩𝐚𝐧: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐘𝐚𝐲𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐥𝐢𝐭𝐚 𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚

Editor: metrokampung.com

​Tarutung, metrokampung.com
selasa 07/04/2026 – Seringkali, kita terjebak dalam keluh kesah saat melihat ketimpangan sosial di depan mata. Namun, bagi Jhonson Edi Simanjorang, mengeluh bukanlah sebuah pilihan. Baginya, sebuah aksi nyata jauh lebih bermakna daripada sekadar kata-kata.

​Semangat inilah yang melahirkan Yayasan Pelita Kita Bersama, sebuah metamorfosis dari lembaga sosial "Pelita Kita" yang telah berkiprah sejak tahun 2013.

​𝐑𝐞𝐤𝐚𝐦 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐞𝐧𝐭𝐮𝐡 𝐀𝐤𝐚𝐫 𝐑𝐮𝐦𝐩𝐮𝐭
​Perjalanan lembaga ini bukanlah cerita baru. Selama lebih dari satu dekade, Pelita Kita telah hadir di tengah masyarakat melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan dasar. Mulai dari pelestarian sosial-budaya, edukasi kesehatan diri, hingga aksi nyata di bidang sanitasi melalui pembangunan jamban bagi keluarga prasejahtera.

​Tak berhenti di situ, perhatian terhadap kualitas sumber daya manusia juga diwujudkan melalui kursus Bahasa Inggris gratis dan pelayanan kesehatan gigi cuma-cuma yang konsisten dijalankan sejak awal berdirinya.



​𝐃𝐚𝐫𝐢 "𝗣𝗲𝗹𝗶𝘁𝗮 𝗞𝗶𝘁𝗮" 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 "𝗣𝗲𝗹𝗶𝘁𝗮 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮"
​Nama "Pelita Kita" ternyata memiliki daya pikat tersendiri bagi Jhonson Edi Simanjorang. Saat melegalkan payung hukum melalui Yayasan MBG, ia memilih untuk menyematkan nama tersebut menjadi Pelita Kita Bersama. Perubahan ini bukan sekadar mengikuti aturan administratif yang mensyaratkan nama yayasan minimal terdiri dari tiga suku kata, melainkan sebuah penegasan visi.

​"Nama ini adalah doa. Bahwa terang (pelita) itu bukan milik individu, tapi milik kita bersama," ungkapnya.

​𝐌𝐞𝐥𝐢𝐩𝐮𝐭 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢
​Di era di mana banyak orang mengejar viralitas demi popularitas, Jhonson memiliki pandangan yang berbeda mengenai peran media. Baginya, sorotan media terhadap kegiatan yayasan bukanlah untuk memamerkan jasa atau mencari nama besar.

​"Kenapa harus diliput media? Bukan karena ingin terkenal, tapi agar orang lain terinspirasi," tutur Jhonson dengan tenang namun tegas.

​Ia percaya bahwa berita positif memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati orang lain. Publikasi adalah cara untuk menyebarkan "virus" kebaikan agar semakin banyak pihak yang tergerak melakukan hal serupa di lingkungan masing-masing.

​𝐅𝐢𝐥𝐨𝐬𝐨𝐟𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐥𝐢𝐧
​Seluruh gerak langkah Yayasan Pelita Kita Bersama bermuara pada satu motto yang menjadi kompas hidup seorang 𝐉𝐡𝐨𝐧𝐬𝐨𝐧 𝐄𝐝𝐲 𝐒𝐢𝐦𝐚𝐧𝐣𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠. 


​"𝐃𝐚𝐫𝐢𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐭𝐮𝐤 𝐤𝐞𝐠𝐞𝐥𝐚𝐩𝐚𝐧, 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐚𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐥𝐢𝐧"

​Filosofi ini menjadi pengingat bagi publik bahwa di tengah kegelapan persoalan sosial, ekonomi, maupun kesehatan, tindakan sekecil apa pun—layaknya sebatang lilin—jika dilakukan dengan ikhlas akan mampu memberi arah dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.

​Kini, melalui Pelita Kita Bersama, Jhonson berharap lilin-lilin kecil yang ia nyalakan di Tapanuli Utara dan sekitarnya bisa menjadi obor besar yang menerangi masa depan masyarakat yang lebih sehat dan berdaya.


Laporan : Jufri Panjaitan
Editor : Simon Sinaga
Share:
Komentar


Berita Terkini