Aktivis Energi Hidro Surati BBWS Sumatra II Terkait Point Interval Elevasi Danau Toba Atas Operasional PLTA Asahan

Editor: metrokampung.com
Aktivis Energi Hidro:James Trafo Sitorus, ST

Toba, metrokampung.com
Energi hidro (hydropower) adalah sumber energi terbarukan yang dihasilkan dengan memanfaatkan energi potensial dan kinetik dari aliran air, seperti sungai atau air terjun, untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Aliran air merupakan sumber daya berkelanjutan yang tidak akan habis, didukung oleh siklus hidrologi alami.

Air mengalir sebagai cara kerja memutar turbin yang terhubung ke generator, mengubah energi mekanik menjadi energi listrik, umumnya menggunakan bendungan (waduk) untuk menciptakan tekanan air (energi potensial) atau sistem run-of-river.

Keunggulan energi hidro, ramah lingkungan karena minim emisi gas rumah kaca dan memiliki efisiensi tinggi, seringkali mencapai 90%. 

Di Indonesia, potensi tenaga air sangat besar (sekitar 95 GW), yang dimanfaatkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) maupun Mikrohidro (PLTMH). 

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan perusahaan adalah komitmen Perseroan Terbatas untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan, baik bagi perusahaan, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. 

Wujud kontribusi perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan dengan mengelola dampak bisnis terhadap lingkungan dan sosial sebagai cermin berdasarkan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan PP No. 47 Tahun 2012, perusahaan yang mengelola sumber daya alam mencakup pemberdayaan lingkungan dan masyarakat, peningkatan kemampuan usaha kecil, dan program bina lingkungan, "ungkap James Trafo Sitorus, ST".

Dalam siaran tertulisnya pada Selasa (12/5/2026) menjelaskan, untuk kita ketahui bersama, bahwa pada awal Tahun 2025 hingga bulan April 2026 telah terjadi penurunan tinggi permukaan air (elevasi) Danau Toba secara signifikan. Fluktuasi Neraca Air Danau Toba ditentukan oleh perbandingan faktor volume aliran primer dan curah hujan  (laju inflow) yang terakumulasi di Danau Toba terhadap total proses evaporasi dan volume debit air yang keluar melewati Regulating Dam di Desa Siruar (laju outflow), keseimbangan / kestabilan  antara aliran air yang masuk dan aliran air yang keluar sangat penting dikondisikan karena berhubungan langsung dengan elevasi muka air, operasional Pembangkit Listrik Tenaga air (PLTA) dan kondisi lingkungan.

Bendungan Pengatur PLTA Asahan yang berada di Desa Siruar berjarak sekira 14,5 Km  dari hulu aliran Sungai Toba Asahan, secara teknis air Danau Toba yang keluar (ouflow) dari Intake Regulating Dam dimanfaatkan sebagai Sumber Energi Hidro PLTA Asahan 1 (2 x 90 MW) milik PT Bajradaya Sentranusa, PLTA PT Inalum (Power Stasion Siguragura & P.S Tangga - Total Kapasitas Terpasang 603 MW) dan PLTA Asahan 3 (2 x  87 MW) milik PT PLN (Persero).

Kestabilan elevasi Danau Toba pada batas maksimum 905 mdpl dan batas minimum 902,4 mdpl telah ditetapkan pada saat Memorandum of Understanding (MoU) Proyek Asahan Tahun 1975. Selanjutnya, tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba dan sekitarnya; diatur pada PERPRES RI Nomor 81 Tahun 2014, ketentuan regulasi tersebut diatas adalah sebagai dasar hukum pemanfaatan air sebagai energi hidro PLTA serta Penyelamatan dan Pelestarian Kawasan Danau Toba.

Parameter Interval batas muka air yang telah disepakati adalah sebagai jaminan keseimbangan dan keberlanjutan  (sustainability) secara menyeluruh ekosistem Danau Toba atas dampak operasional dan expansi proyek PLTA disepanjang aliran Sungai Toba Asahan.

Indikator Tinggi Permukaan Sungai Toba Asahan disekitar Dam Siruar berada dibawah level 902,50 mdpl. Pertemuan pihak Perum Jasa Tirta I dengan BMKG di Stasiun Meteorologi Kelas II Silangit pada (9/4/2026) merilis tren penurunan muka air Danau Toba, pemantauan per  tanggal 17 Maret 2026 elevasi Danau Toba pada level 903,12 mdpl. Rencana pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Semester Pertama Tahun 2026 menjadi opsi akibat tren ketidakstabilan Sumber Energi Hidro PLTA Asahan. 
   
Referensi Data Hidrologi pada Tahun 1997 s/d 1999 yang kami kutip dari berbagai sumber dapat kita jadikan sebagai acuan perbandingan analisis hidrologi Danau Toba pada kondisi sekarang untuk kami presentasikan kepada Instansi BBWSS II, referensi informasi data yang dikutip adalah dari sumber Universitas Gajah Mada (UGM) Tahun 2000 Tentang Debit Pelepasan dari Danau Toba dalam satuan meter kubik, dan Data Otorita Asahan Tahun 2008 Tentang Tinggi Permukaan Air  Danau Toba pada masa Tahun 1997 s/d 1999.

Dirinya berharap, pada kesempatan ini agar mendapatkan konfirmasi kepada Kepala BBWS Sumatera II, Tentang Batasan Pelepasan Tetap Outflow Intake Regulating PLTA pada level Elevasi 903 s/d 902,5 mdpl  (water Level Mangement) dan metode statistika pengumpulan data analisis hidrologi di seputaran Danau Toba sejak Tahun 2020 s/d 2026.(rel/EM/mk) 
Share:
Komentar


Berita Terkini