![]() |
| Digital Marketing Otten Coffee, Aizeindra Yoga di area stan Kopi Fest Indonesia. (ft/Vera/mk) |
Medan, Metrokampung.com
Aroma pekat kopi menyeruak di antara hilir mudik pengunjung Sun Plaza, Medan, Rabu siang, 28 Mei lalu. Di salah satu sudut area yang disulap menjadi lautan stan, seorang pria tampak khusyuk memperhatikan air panas yang mengucur perlahan dari teko leher angsa, membasahi bubuk kopi di atas kertas saring.
"Ini biji kopi dari dataran tinggi Karo, Mas. Coba cium aromanya, ada jejak wangi buah yang kuat," ujar sang barista ramah kepada seorang pengunjung yang menunggu dengan sabar.
Suasana riuh itu menjadi penanda bergulirnya Kopi Fest Indonesia (KFI) 2026. Medan didapuk menjadi kota pembuka rangkaian festival kopi bergengsi besutan Otten Coffee tersebut. Digelar selama lima hari 27 hingga 31 Mei 2026, ajang ini tak sekadar menjadi tempat kongko, melainkan ruang pameran bagi geliat industri kopi hilir yang kian matang.
Panggung bagi "Harta Karun" Lokal
Sumatera Utara tak pernah kehabisan cerita jika bicara soal kopi. Dari Mandheling, Lintong, hingga Sidikalang, tanah bergeliat ini adalah rumah bagi sebagian biji kopi terbaik dunia. Momentum inilah yang ditangkap dalam KFI 2026. Festival ini sengaja memberi panggung besar bagi komoditas lokal untuk "unjuk gigi" di rumah sendiri.
Bagi para pelaku usaha kopi lokal, lantai mal ini adalah etalase emas. Mereka tak hanya menjajakan segelas kopi susu kekinian, tapi juga mengedukasi lidah pengunjung lewat "manual brew" (seduh manual) yang mengeluarkan karakter asli tiap biji kopi.
Digital Marketing Otten Coffee, Aizeindra Yoga, menyebut gelaran ini sebagai wadah kolaborasi lintas sektor yang strategis. Ekosistem kopi, kata dia, tidak boleh bergerak sendiri-sendiri.
"Kami ingin menghadirkan sebuah ekosistem yang mempertemukan pegiat industri, pelaku usaha, barista, dan penikmat kopi dalam satu acara," kata Aizeindra di sela-sela riuhnya festival.
Menurut Aizeindra, misi besar acara ini berakar pada dua hal: edukasi publik tentang seluk-beluk kopi yang benar, dan menyediakan panggung kreatif bagi para barista lokal untuk menguji nyali serta kemampuan mereka lewat kompetisi yang sengit.
Menghapus Jarak antara Barista dan Penikmat
Berbeda dengan pameran dagang yang kaku, KFI 2026 terasa lebih intim. Jarak antara peracik kopi dan konsumen lebur dalam obrolan-obrolan santai di depan meja seduh ("live brewing").
Wijaya Susanto, salah satu warga Medan yang memadati lokasi, mengaku terkesan dengan konsep ini. Baginya, festival ini menjadi ruang belajar singkat yang menyenangkan.
"Suasananya ramai dan seru. Kita bisa coba banyak jenis kopi sekaligus, jadi lebih tahu karakter kopi dari masing-masing tenant," tutur Wijaya sambil memegang segelas kopi hangatnya.
Di tempat ini, pengunjung memang dimanjakan dengan spektrum rasa yang luas. Dari pahit-getir espresso yang presisi, keaslian rasa kopi hitam Nusantara, hingga kreasi kopi tematik yang memadukan rasa tradisional dengan selera modern.
Melalui KFI 2026, ada harapan besar yang ditaruh di atas meja, mendorong penetrasi pasar UMKM kopi lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional, sekaligus membuka keran kolaborasi baru di sektor industri kreatif.
Pesta bagi para pencinta kafein di Medan ini terus mengepul hingga 31 Mei, sebelum nantinya kafilah kopi ini bergerak menjajaki kota-kota lain di Indonesia.(Ra/mk)

