SUMUT

NASIONAL

Baru Selesai Dikerjakan, Jalan Hotmix Desa Gunung Sinembah Sudah Retak

Jumat, 11 Januari 2019 | 00.08 WIB
Kali Dibaca |


Gn Meriah - metrokampung.com
Proyek jalan hotmix sepanjang 1,2 Km di Desa Gunung Sinembah, Dusun I dan II, Kecamatan Gunung Meriah yang dianggarakan Pemerintah Kabupaten Deliserdang Tahun Anggaran 2018 usai dikerjakan menjelang tutup Tahun 2018. Namun kondisi pengaspalan dikeluhkan warga di sana. Pasalnya, baru selesai dikerjakan jalan aspal tersebut sudah retak-retak.

Sejumlah warga di sana menuturkan, mereka sangat kecewa dengan proyek jalan berkonstruksi hotmix yang dikerjakan pemborong Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Deliserdang. Sebab kondisi pekerjaan jalan, tidak sesuai yang diharapkan warga. Baru beberapa hari selesai dikerjakan sudah retak.


“Kami sebagai pengguna jalan merasa kecewa dengan pekerjaan jalan yang kualitasnya sangat buruk. Kami memperkirakan jalan ini hanya bertahan 4 bulan saja. Sebelum kerja tahun sudah hancur di sana sininya,” kata Purba, pria setengah tua saat ditemui jurnalis metrokampung.com di lokasi, Rabu (2/1/2019). Purba pun menunjukan beberapa aspal yang retak.

Disebutkannya, pekerjaan jalan ini tidak dilakukan penggilingan berulang kali, namun hanya dilakukan sepintas saja, sehingga jalan ini sudah pecah dan retak. Dikuatirkan jika musim hujan tiba aspal ini akan terbawah air.

“Pekerjaan jalan ini, baru seminggu selesai. Pekerjaan jalan ini dilakukan malam hari dan saat turun hujan,"tambah warga lainnya mengaku marga Saragih.

Menurut Saragih, jalan ini sebelumnya berkonstruksi lapen dan kemudian dilakukan peningkatan jadi konstruksi hotmix, namun pekerjaan hotmix terkesan asal jadi.

”Kami akui, kami senang dengan adanya pekerjaan yang sudah dilakukan bagi masyarakat, namun kerja yang dilakukan harus perhatikan kualitasnya, jangan kerja asal-asalan. Karena baru saja selesai seminggu sudah retak,”ungkapnya.

“Masak, belum lagi sampek seminggu dikerjakan, aspalnya sudah ada yang retak-retak. Diduga ketebalan aspalnya tidak sesuai. Ini salah satu contoh pembodohan terhadap rakyat. Padahal masyarakat desa sudah bertahun-tahun mendambakan pengaspalan jalan itu,” tutur warga lainnya.

Pantauan wartawan di lokasi yang disebutkan warga, proyek pengaspalan yang tidak ada plank namanya juga tidak merata dan melompat lompat. Ada berapa ratus meter pengaspalan yang terputus.

Meski aspal tipis, bergelombang dan terputus beberapa ratus meter, namun Kasi Pembangunan Jalan Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Deliserdang, Agus Salim Lubis ST menegaskan bahwa proyek jalan hotmix di desa tersebut sudah selesai dikerjakan.


"Itu sudah selesai dikerjakan Pak. Mengenai adanya adanya keretakan akan kita anggarkan TA 2019 untuk dilakukan pembetonan,"jelasnya saat dikonfirmasi via hape, Rabu (9/1/2019) malam.

Diungkapkan Agus bahwa pekerjaan hotmix di Desa Sinembah, sepaket dengan yang di Desa Huta Bayu sepanjang 500 meter.

Terpisah, Aspin Sitorus ST, Ketum DPP LSM Solidaritas Anak Negeri Pemantau Asset Negara Republik Indonesia (Sanpan RI) meminta Agus Salim jalan asal bunyi. Dan pemborong yang mengerjakan proyek tersebut harus segera memperbaiki. Jika tidak segera diperbaiki dikwatirkan akan semakin rusak parah.

"Kerusakan yang ada sekerang ini harus cepat diperbaiki. Jangan asal ngomong mau dianggarkan segala,"bilang Aspin kesal.


Diberitakan sebelumnya, warga Desa Gunung Sinembah, geram setengah mati terhadap proyek pengaspalan hotmix di desa mereka yang dikerjakan 'seadanya'. Lapisan aspal yang terlalu tipis disangsikan jalan tidak lagi kokoh dan mudah retak. Kemudian dilaksanakan saat kondisi cuaca mendung. Sehingga membuat jalan menjadi tidak awet, mudah rusak dan mubazir. Warga menganggap adanya tindak korupsi dalam proyek pengerjaan jalan tersebut.

"Proyek terindikasi ada kecurangan. Viral kan biar yang korupsi ketangkap. Hajar koruptor aspal jalan,''kata warga. Warga lainnya juga menyesalkan proyek pengaspalan jalan seperti ini. Selain bakalan terganggu saat melintas lantaran kondisi jalan yang buruk, juga jika memang ada indikasi penggelapan dana, tentu merugikan negara.

Parahnya lagi, sambung warga, proyek pengaspalan yang menelan biaya miliaran rupiah itu tidak ada plank proyek. Warga makin bertambah gondok, tatkala tersiar kabar pemborong proyek tidak melakukan pengaspalan dimulai dari titik nol awal jalan dusun yakni pinggir Jalan Lintas Sumatera Gunung Meriah - Saranpadang (Simalungun) melainkan akan memundurkannya ke ujung jalan dusun.

"Sudahlah aspalnya tipis, tidak ada paretnya lagi. Sehingga kalo hujan jalanan jadi tergenang air,"timpal Tarigan, warga lainnya yang minta namanya dirahasiakan.


Jalan aspal yang tidak ada paretnya langsung berdindingkan tebing dan tanah warga. Sehingga di kala hujan turun, jalanan tergenang air. Ada juga bagian badan jalan jadi lintasan air yang turun meluncur dari tebing-tebing pinggir jalan. Kemudian air-air tersebut menuju seberang jalan menuju lembah.

“Kalau kondisi basah dan cuaca mendung dilakukan pengaspalan itu sudah menyalah,” kata seorang mantan pemborong ditemui di warung kopi tak jauh dari lokasi pengaspalan, Minggu (16/12/2018). Sejatinya, mekanisme pengaspalan harus dilaksanakan pada saat cuaca panas. Sehingga, material aspal yang digunakan tak gampang lekang atau merekat.

“Contoh kecil saja. Kalau sepatu dilem pas kondisi basah, pasti gak melekat. Sama halnya dengan aspal, kondisi basah dan mendung gak merekat. Jadi pantasnya harus cuaca panas. Dan suhu (curah) panas aspalnya sudah tidak sesuai lagi,” jelasnya. Selain itu, sebelum pengaspalan dilaksanakan, harus lebih dulu melakukan clearing dan grubbing atau pembersihan badan jalan dari sampah serta debu menggunakan air compresor. Selanjutnya, melakukan cor tack coat (lem perekat antara ATB dengan aspal hotmix) yang kemudian menghamparkan pelapisan menggunakan finisher dan pemadatan.

”Tapi faktanya gak ada tadi nampak dilakukan pembersihan. Langsung lem perekatnya disiram campur air hujan. Habis itu dilakukan penghamparan dan pemadatan,” jelasnya. Ironisnya, di lokasi pengaspalan, papan (plang) informasi kegiatan tak terlihat.

“Plangnya pun gak ada. Jadi gak tau berapa anggaran pengaspalan ini. Harus disoroti pemborongnya ini. Kalau tidak, suka-suka sistem pengaspalannya,” paparnya.(dra/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru