SUMUT

NASIONAL

Aliansi Masyarakat Luat Pahae Meluapkan Kekesalannya dengan Aksi Demo ke Perusahaan Pengelolah Bendungan Pahae Jae

Jumat, 20 Desember 2019 | 13.18 WIB
Kali Dibaca |


Pahae, Metrokampung.com 
Aliansi Masyarakat Luat Pahae akhirnya meluapkan keberetanya dengan Aksi Demo kelokasi proyek pembangunan bendungan yang kerjakan oleh perusahaan Hutama Karya (HK) berlokasi di Desa Parsaoran Nainggolan Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara, Bersumber dana dari kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Sumut II, sebesar 252 Miliar Rupiah.

Aksi demo berjalan dengan damai yang dikedalikan oleh orator Jhon Parapat (35), menuntun peserta aksi hingga kekantor managemen.


Adu argument semakin memanas saat pengunjuk rasa diterima oleh Bahtiar Sidabutar yang mengaku wakil pimpinan HK menerima lembaran tuntutan aksi berisi 8 poin dan menjawabnya poin demi poin  seadanya.

Tuntutan Aksi Aliansi Masyarakat Pahae
1: Tenaga kerja harus diutamakan masyarakat lokal / pemilik lahan dan pulangkan pekerja dari luar Luat Pahae.

2: Utamakan Vendor lokal dari pada luar menjadi suplayer di dalam proyek.

3: Harus ada perjanjian kontrak kerja antar waktu buat pekerja lokal baik untuk Hutama Karya ataupun subkontraktor dan di daftarkan secari resmi ke Disnaker.

4: Seluruh tenaga kerja harus di lindungi BPJS ketenaga kerjaan ataupun kesehatan dari perusahaan.

5: Upah Tenaga kerja harus sesuai dengan UMK/UMR sesuai dengan UU yg berlaku di Indonesia.

6: Meminta penjelasan secara terbuka terkait material yang masuk ke proyek bendungan Batang Toru.

7: Evaluasi humas dan yang tidak berkompeten harus dikeluarkan.

8: Keluarkan pembinaan organisasi buat seluruh organisasi yang ada di LUAT PAHAE.

Dala Siregar (51) menyela ditengah Bahtiar berbicara.

"Anda bukan orang HK, anda itu karyawan PT Runggu Prima Jaya (RPJ) kami mau bertemu dengan Projek Manager HK," teriak beliau lantang.


Bahtiar Sidabutar dan Humas HK Tonggor Panggabean menjelaskan pimpinan mereka tidak berada di tempat beliau berada di Jakarta.

Pengunjuk rasa tidak percaya akan keterangan tersebut sembari berteriak "Ayo...Keluar...keluar... Jangan jadi Bencong!!!! Kami mau berhadapan langsung dengan pimpinan HK," begitu gemuruh suara peserta aksi.

Saut Gultom (45) dengan panggilan Pak Bobby sebagai penanggung jawab aksi mengajak pengunjuk rasa untuk menduduki salah satu ruang kantor HK setelah turun kelapangan menghentikan kegiatan proyek karena kesal dengan sambutan pihak perusahaan.

"Saya penanggung jawab aksi, iap dengan segala konsekwensi yang terjadi demi Luat Pahae yang tercinta ini," tegas beliau saat salah seorang mantan anggota Dewan berusaha menakut-nakuti perserta karena menghentikan pekerjaan.

Didalam ruangan terus terjadi perdebatan antara pihak pengunjuk rasa yang dihadapi langsung oleh Humas HK Tonggor Panggabean dan hampir terjadi Keos karena salah seorang Humas HK menyambut tuntutan pengunjuk rasa dengan bahasa pribadi menuding salah seorang penanggung jawab aksi Arlan Tanjung (35) terlalu memojokkan mereka (red-humas).

Setelah dapat diredam akhirnya kesepakatanpun antara dua pihak terjadi.

Tonggor Panggabean berjanji akan mempertemukan pihak lengunjuk rasa selambat-lambatnya 5 hari dan menuangkanya dalam secarik kertas bermaterai guna meyakinkan pengunjuk rasa yang mengaku selama ini di bohongi.

Pak Bobby mengatakan kami akan datang lagi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila perjanjian ini tidak terealisasi," pungkasnya tegas lalu membawa massa meninggalkan lokasi proyek.

Dari awal hingga akhir aksi pengunjuk rasa di kawal ketat oleh pihak kepolisian dan TNI.

"Terimakasih atas atas unjuk rasa damai ini," ujar Kanit Reskrim Polsek Pahae Jae Brigadir Ronal Erik Sitorus kepada pengunjuk rasa.(jufri/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru