SUMUT

NASIONAL

Ketua IJTI Tapanuli Raya Andrey Simatupang : Sampel Limbah Kami Uji Secara Nyata dengan Memakai Ikan, Hasilnya Ikan Yang Berisi Air Sampel Limbah Mati Jangka 30 Menit

Rabu, 18 Desember 2019 | 09.15 WIB
Kali Dibaca |


Tobasa, metrokampung.com
Setelah sebelumnya pihak Lindup dan beberapa Wartawan serta LSM turun ke lokasi Lahan Pembuangan Limbah milik PT. Tapioka dan mengambil sampel air diduga bercampur limbah berbahaya, dan jika hasil lab terkait mutu baku air yang diduga limbah tersebut turun paling lama 30 hari kalender, membuat Ketua IJTI Tapanuli Raya segera mengambil langkah bijak. Hal ini dilakukan untuk membuktikan sebab pihak PT. Tapioka bersikeras jika itu tidak limbah berbahaya bagi lingkungan atau pun merusak kualitas tanah.

Bermodalkan 3 ekor ikan kecil dan sampel dengan gelas plastik, dimana 3 gelas plastik tersebut diisi dengan masing masing, air bersih, air yang diduga limbah  yang dicampur dengan air  bersih, dan air yang diduga limbah yang diambil pada saat cek lokasi.

Andrey mengatakan jika masing masing gelas yang berisi ikan dan air seperti yang disebutkan tadi akan dicek selama 30 menit ke depan.


"Kita tunggu 30 menit, dan nanti hasilnya kita lihat sendiri, dan saya simpel saja menguji itu limbah atau tidak. Tidak perlu harus lama lama menunggu hasil lab ,sebab saya paham jika air limbah perusahaan yang sudah diolah dan dibuang ke aliran sungai kecil, tentu tidak akan merugikan atau merusak lingkungan masyarakat. Dan Jika pun lahan itu dibilang IPAL, kenapa tidak dibuat model kolam? Kan sudah jelas itu sengaja merusak lingkungan," ujarnya saat ditemui di kantornya.

Dan 30 menit kemudian, Andrey mengambil sampel 3 gelas yang berisi ikan dan air dengan kualitas masing masing, maka hasilnya adalah ikan yang berisi air yang diduga limbah milik Tapioka telah mati, lalu air bersih yang dicampur limbah masih hidup dan yang berisi air murni terlihat ikanya lebih agresif.

"Nah, jelas kan?Jadi ini sampel saya simpulkan jika ai yang kami ambil dari lokasi pembuangan limbah beracun ke lahan terbuka sangat berbahaya. Buktinya ikan ini mati dalam waktu 30 menit, dan yang bercampur limbah serta air bersih Itu masih sehat dan lincah, diibaratkan itulah hasil pengolahan limbah pabrik atau IPAL dan dibuang ke sungai sungai kecil setelah dipastikan mutu baku air hasil dari pemgolahan IPAL tidak beracun. Jadi saya menduga ada kongkalikong antara Lindup dan PT. Tapioka Hutahaean dalam hal ini. Jelas sudah beberapa waktu lalu mereka katakan sudah salah, tapi tak bernyali ambil tindakan," ijar Andre menutup pembicaraan.(Her/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru