SUMUT

NASIONAL

Gas Beracun di Banuaji Sudah Makan Korban, Ratusan Ha Sawah dan Ladang Kemenyan Gagal Panen Sudah Dua Tahun

Kamis, 12 Maret 2020 | 10.01 WIB
Kali Dibaca |



Taput, metrokampung.com
Munculnya semburan “gas beracun H2S”dilahan pertanian Masyarakat desa Banuaji,I,II dan lV kec adian koting kab taput-sumut,” yang berdampak pada kerusakan ekosistem dan keber langsungan hidup bertani semakin terancam.

Melihat dengan menyikapi apa yang telah dirasakan dan di alami, maupun di resahkan masyarakat,” selama dua tahun terakhir ini,” terkait muncul semburan gas beracun yang aktif, menimpa lahan pertanian,tepatnya berada di desa banuaji IV.

Tim lsm pemerhati lingkungan dan wartawan dari beberapa media dipandu bersama warga desa banuaji sebagai pemilik lahan yang rusak.

Turun langsung kelapangan melakukan observasi peninjauan,dan menelusuri untuk melihat titik- titik sumber semburan gas beracun, Sabtu (07/03-20).

Sesampai di lokasi telah menemukan titik-titik mata air yang meluas, bergelembung-gelembung berbuih, berbau, dengan menguap diduga sumber munculnya semburan gas beracun dan telah mengakibat dampak pencemaran lingkungan kerusakan ekosisitem dengan polusi udara, polusi air, polusi tanah yang menimbulkan kerusakan lahan persawahan dan tanaman.

Pantauan tim lsm dan awak media dilapangan munculnya sumber semburan gas beracun saat ini terjadi persis di beberapa titik lokasi perladangan diantaranya Nagurguran, Nasiloan, Sibau-bau dan lainnya.

Masyarakat desa Banuaji selama dua tahun terakhir ini”sedang mengalami keresahan dan truma sejak meninggalnya salah seorang warga yang diduga akibat pengaruh gas beracun,dan begitu juga beberapa jenis hewan satwa lain,” seperti. Burung, Monyet, Anjing, Trenggiling bahkan berbagai jenis ikan di sungai yang sudah tercemari akibat semburan gas.

Selain jenis hewan satwa lainnya, berbagai jenis tanaman yang lain juga ikut gosong,ratusan batang pohon kemenyaan, Pete, dan Padi yang mengakibatkan gagal panen seperti pengakuan warga.

“Sudah dua tahun ini kami gagal panen akibat semburan gas itu, sama sekali tidak ada kepedulian pemerintah,” ujar salah satu warga.

Kepala Desa Banuaji IV, Hisar Sihite, membenarkan adanya kejadian tersebut dan kades segera melaporkan masalah ini kepada Bupati.

Team yang saya turunkan ke TKP pada Sabtu (07/02/2020), rekan Pers, Lsm dan pegiat lingkungan.

Dijelas Kepdes Tim Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral di dampingi dinas lindup taput,telah bersama-sama turun ke lokasi dipandu kepala desa untuk mengambil bukti sampel agar tim ahli dapat menguji kebenaran dampak munculnya semburan gas beracun tersebut, Kamis (05/03-20),”terang kepdes.

Selanjutnya warga setempat berharap agar pemerintah segera memberi perhatian terhadap permasalahan kejadian yang sebenarnya demi menghindari keresahan masyarakat yang sedang di alami bersama warga lain.

Novi Tobing mengakui pada tahun lalu semburan gas ini sudah dilaporkan kepada Bupati, Dinas Lindup dan Camat tetapi tidak ada tindakan.

Tokoh pemerhati sosial masyarakat, Jekson Tobing,” mendesak pemerintah untuk segera melakukan tindakan nyata agar semburan gas beracun tidak semakin meluas.

Dinas Lindup, Dinas Pertanian dan Dinas kesehatan agar berbuat langsung ke masyarakat dan serta pemerintah pusat maupun pemkab Taput agar menuntut pihak PT SOL agar supaya bertanggung jawab atas kejadian yang sudah mengganggu kelangsungan hidup masyarakat sekitar.

Adanya asumsi banyak pihak maupun masyarakat setempat menduga sumber penyebab permasalahan yang timbul saat ini adalah akibat adanya aktivitas operasional PT SOL.tbk selama ini,”tegasnya.

Sahala Saragi pegiat lingkungan hidup, mendesak pemerintah pusat untuk segera mengirimkan tim ahlinya agar secepatnya datang ke hutan adat banuaji guna mengatasi masalah ini juga mendesak Menteri Lingkungan hidup dan kehutanan untuk melakukan audit lingkungan terhadap perusahaan penghasil listrik.

Dikatakannya selama ini PT SOL,Tbk sudah melakukan explotasi dan explorasi dengan produksi energi listrik yang memanfaat tenaga panas bumi di Tapanuli Utara adapun tujuannya adalah untuk mengungkap dugaan adanya hubungan antara aktivitas perusahaan listrik tersebut dengan munculnya semburan gas beracun di hutan adat Banuaji.

Yang mengakibatkan ancaman serius bagi kehidupan masyarakat serta lingkungan hidup, kiranya jeritan dan tangisan masyarakat banuaji dapat membuka hati dan pikiran pemerintah untuk segera turun ke hutan Banuaji, harapnya.(jufri/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru