SUMUT

NASIONAL

10 Warga Reaktif Dinyatakan Negatif, 23 Lagi Masih Jalani Isolasi

Rabu, 27 Mei 2020 | 21.26 WIB
Kali Dibaca |

drg Wahid Khusairy.

Batu Bara, metrokampung.com
Dinas Kesehatan dan Direktur RSUD Batu Bara telah menerima hasil pemeriksaan 10 sampel Reaktif Covid-19 dari laboratorium RT-PCR. Berdasarkan hasil laboratorium PT-PCR ternyata ke 10 warga tersebut dinyatakan negatif.

 "Alhamdulillah 10 yang kemarin reaktif berdasarkan hasil rapid test, dinyatakan negatif berdasarkan hasil laboratorium RT-PCR," kata Kepala Dinas Kesehatan Batu Bara yang juga Juru Bicara GTPP
(Gugus Tugas Percepatan Penanganan) Covid-19, drg Wahid Khusyairi, Rabu (27/5/2020).

 Sementara 23 orang reaktif dari hasil Rapid Test terhadap 2.711 orang yang dilaksanakan di 13 pasar tradisional jelang Idul Fitri 1441 H lalu, saat ini sedang menjalani isolasi menunggu keluarnya hasil Swab.

 "Sebelum Lebaran, kita lakukan Rapid Test terhadap 2.711 orang. Hasilnya 23 orang Reaktif Covid-19. Saat ini mereka sedang menjalani isolasi.

Sedangkan sampel pemeriksaan sudah kita kirim ke laboratorium dan saat ini sedang menunggu hasil," terangnya.

Sebelumnya,  drg Wahid Khusairy telah meminta masyarakat Batu Bara tidak panik dan cepat memberikan penilaian yang keliru terhadap hasil Rapid Test yang dilaksanakan baru-baru ini. Melalui pemeriksaan Rapid Test yang digelar dua kali terdapat 33 orang yang positif atau reaktif virus.

 Untuk diketahui, melihat melonjaknya kembali jumlah kasus ODP dan pelaku perjalanan yang datang ke Batu Bara apalagi menjelang hari raya Idul Fitri, Tim GTPP Covid-19 mengusulkan kepada Bupati Batu Bara Zahir selaku Ketua Gugus Tugas agar dilakukan pemeriksaan Rapid Test untuk memastikan apakah Kabupaten Batu Bara sudah terpapar Covid 19 atau belum.

 Langkah itu diambil dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dini agar dapat melakukan antisipasi terhadap penyebaran Covud-19 di Kabupaten Bara Bara. Menyikapi hal itu, sesuai arahan Ketua GTPP Covid-19 Kabupaten Batu Bara, dilaksanakan pemeriksaan rapid test pada tanggal  21 dan 22 Mei 2020.

 Hari pertama sasarannya kepada ODP, pelaku perjalanan, petugas kesehatan dan Kepala OPD. Pada pemeriksaan Rapid Test tersebut ditemukan 10 orang positif atau reaktip.

 Selanjutnya pada hari kedua  target  pemeriksaan kepada pedagang dan pengunjung pasar di 13 pasar tradisional di seluruh kecamatan se-Kabupaten Batu Bara, pemilik dan pelayan toko serta tukang ojek. Pada pemeriksaan Rapid Test hari kedua ditemukan sebanyak 23 orang positif atau reaktif.

 "Terhadap orang- orang yang hasil rapid testnya positif sesuai dengan SOP,  kita lakukan pemeriksaan Swab. Dari 23 orang yang Rapid Testnya positif sudah kita lakukan pemeriksaan Swab pertama sebanyak 18 orang selanjutnya untuk dilakukan pemeriksaan PCR melalui Dinkes Provsu," ungkapnya.

 Agar tidak menimbulkan kepanikan
dan tidak cepat memberikan penilaian yang salah terhadap hasil pemeriksaan, drg Wahid menjelaskan pemeriksaan Rapid Test adalah metode "skrining" awal untuk mendeteksi anti bodi yaitu IgM dan IgG yg diproduksi tubuh untuk melawan virus Corona. Antibodi ini akan terbentuk oleh tubuh bila terpapar virus Corona. Dengan kata lain bila antibodi ini terbentuk di dalam tubuh seseorang artinya tubuh orang tersebut pernah terpapar atau dimasuki virus Corona.

 Karena itu drg Wahid minta masyarakat harus memahami pembentukan antibodi ini memerlukan waktu bahkan bisa sampai beberapa hari hingga seminggu.

 "Jadi, Rapid test hanyalah sebagai pemeriksaan skrining atau pemeriksaan penjaringan bukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa infeksi Virus Corona atau Covid-19," paparnya.

 Lebih jauh Jubir Gugus Tugas Covid mengemukakan, test yang dapat memastikan apakah seseorang positif terinfeksi virus Corona sejauh ini hanya melalui alat Polymerase Chainy Reaction (PCR) yang bisa mendeteksi langsung keberadaan virus Corona ini.

 Sedangkan hasil Rapid Test positif (reaktif) menandakan bahwa org yang diperiksa pernah terinfeksi virus Corona. Meski begitu diuraikan drg Wahid, orang yang sudah terinfeksi dan memiliki virus didalam tubuhnya bisa saja mendapatkan hasil Rapid Test non reaktif (negatif) karena tubuhnya belum membentuk antibodi terhadap virus Corona.

 "Jika hasilnya negatif, pemeriksaan perlu diulang 7-10 hari setelahnya. Akan tetapi yang bersangkutan tetap disarankan untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari walaupun tidak mengalami gejala sama sekali dan merasa sehat," imbuhnya.

 Bagi masyarakat yang hasil Rapid test positif diminta drg Wahid jangan panik dulu. Antibodi yang terdeteksi pada Rapid Test bisa saja merupakan anti bodi terhadap virus lain atau Corona Virus lain bukan yang menyebabkan Covid-19.

"Maka itu perlu dilakukan pengambilan Swab untuk test PCR guna memastikan apakah benar terinfeksi Covid-19. Selama menunggu hasilnya yang bersangkutan  harus menjalani isolasi mandiri di rumah paling tidak 14 hari," sarannya.

 Disarankannya juga selama isolasi mandiri hindari bepergian, hindari kontak dengan orang lain yang tinggal serumah sembari menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Physical distancing dengan menjaga jarak 1 meter dari orang lain dan kenakan masker jika berinteraksi dengan orang lain.

 Selain itu apapun hasil rapid testnya, drg Wahid minta agar pantau terus kesehatan. Bila memiliki gejala berupa batuk, demam tinggi, sakit tenggorokan, sesak nafas, maka segeralah ke fasilitas kesehatan untuk mendapat pelayanan kesehatan lebih lanjut. Meskipun demikian jika ada diantara yang pengambilan Swab dan pemeriksaan PCR nantinya tetap positif maka tidak perlu panik.

"Untuk kasus yang ringan dan sedang, di jajaran Dinas Kesehatan dan RSUD Batu Bara siap menanganinya sesuai pedoman yang telah diberikan," tutup Wahid.(dra/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru