DELI SERDANG, Metrokampung.com
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Deli Serdang menyoroti tajam maraknya peredaran gelap narkoba di wilayah hukum Polresta Deli Serdang. Di tengah momentum sakral Hari Raya Idul adha, PMII menilai daerah ini masih dihantui oleh "penyakit masyarakat" yang mengancam masa depan generasi muda.
Ketua PC PMII Deli Serdang, M. Syarif Hidayatullah, Rabu(27/5/2026) menyampaikan bahwa masyarakat saat ini berada dalam kondisi yang sangat resah. Ia bahkan secara tegas meminta Kapolresta Deli Serdang, Kombes Pol Hendria Lesmana SIK, untuk berani mundur dari jabatannya jika tidak mampu membersihkan peredaran narkoba di wilayah tersebut.
"Masyarakat Deli Serdang sudah sangat resah dengan maraknya narkoba. Ini telah menjadi penyakit kronis di mata masyarakat. Jika Kapolresta Deli Serdang tidak mampu memberantas narkoba hingga ke akarnya, lebih baik mundur saja," ujar Syarif Hidayatullah.
Syarif menilai, hingga saat ini masih banyak titik peredaran dan bandar narkoba yang belum terungkap di wilayah hukum Polresta Deli Serdang. Pembiaran ini dinilai menjadi pemicu utama kegelisahan masyarakat yang kian memuncak.
Kritik keras PMII ini bukan tanpa alasan. Syarif mencontohkan peristiwa nyata di mana warga sipil sendiri yang harus turun tangan melakukan penangkapan pelaku narkoba di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Pantai Labu, beberapa waktu lalu. Menurutnya, kejadian itu menjadi tamparan keras bagi aparat penegak hukum.
"Melihat kejadian pengungkapan narkoba oleh warga sipil di Desa Rantau Panjang kemarin, di sini saya melihat kepolisian seperti hanya memakan gaji buta. Tidak ada kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam memberantas barang haram ini," tegas Syarif secara blak-blakan.
Hal ini sesuai dengan arahan Bapak Presiden RI Prabowo Subianto, bahwa pemberantasan Narkoba harus sampai ke akarnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagai institusi pelindung masyarakat, Kepolisian seharusnya bisa memastikan Kabupaten Deli Serdang berada dalam kondisi yang aman, nyaman, dan kondusif. Kehadiran polisi harus bersentuhan langsung dengan rasa aman warga, bukan justru pasif saat garis depan pertahanan justru diambil alih oleh warga sipil.
Menutup pernyataannya, Syarif mengaitkan kondisi ini dengan esensi Idul adha yang identik dengan semangat pengorbanan dan pembersihan diri dari keburukan. Ia berharap momentum ini menjadi alarm bagi pihak kepolisian untuk bersih-bersih dan tidak membiarkan masa depan daerah hancur.(Rel/MK)
