SUMUT

NASIONAL

15 Penyelengara Pemilu di Labuhanbatu Sakit, Diantaranya Muntah Darah dan Stroke

Minggu, 28 April 2019 | 12.08 WIB
Kali Dibaca |

Salahseorang anggota KPPS 05 Gunung Selamat, Kecamatan Bilah Hulu saat dirawat di Rumah Sakit.

Labuhanbatu - Metrokampung.com 
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Labuhanbatu mencatat sementara ada 15 orang peyelenggara pemilihan umum jatuh sakit pasca tahapan pemilihan secara serentak.

"Lebih kurang 15 orang yang sakit. Total 1 orang meninggal dunia, 1 orang sempat muntah darah, 1 orang terkena stroke dan ada 4 orang yang diinfus di rumah karena kelelahan, beberapa orang rawat jalan, ada juga dalam kondisi lemah dan tidak aktif lagi di PPK karena ijin mengundurkan diri," kata Ketua KPUD Labuhanbatu, Wahyudi, kepada wartawan Sabtu (27/4) malam di Rantauprapat.

Ia menyampaikan keprihatinan dengan peristiwa yang menimpa anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), karena musibah ini diluar dugaan. Pihaknya juga tetap memberikan perhatian dan merasa persitiwa ini merupakan wabah secara Nasional pasca pemilihan umum atau Pemilu.

Wahyudi mencatat, ada satu orang anggota KPPS yang sakit parah yakni bernama Manggiring Siregar mengalami pendarahan hingga muntah darah dan Dakkul Rambe mengalami stroke.

Dalam peristiwa itu, Manggiring Siregar warga Afdeling 2 Perkebunan, Dusun 10 Kecamatan Panai Hulu melakukan rekapitulasi suara hingga pagi pukul 05.30 WIB, Kamis 18 April 2019 di TPS 11 Dusun 10 Perkebunan Ajamu. Sesampainya di rumah mengalami muntah hebat hingga mengeluarkan darah.

Pihak keluarga merujuknya ke RSUD PTPN4 di Kota Tebing Tinggi. Selanjutnya pria kelahiran tahun 1968 ini masih menjalani perawatan inap oleh tim medis hingga sekarang.

Pasca kejadian itu, staf keuangan PPS Desa Sibargot, Dakkul Rambe warga Kecamatan Bilah Barat terkena serangan stroke dan belum pulih hingga sekarang.

"Kita minta kepada semua PPK, PPS begitu rekapitulasi suara di kecamatan memastikan kondisi kesehatannya terjaga, apapun kendala di kecamatan sampaikan kepada KPUD Labuhanbatu. Prinsipnya menjaga kesehatan kita utamakan dalam rekapitulasi suara di kecamatan oleh PPS," katanya.

Pihaknya mengucapkan terimakasih atas perhatian Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu yang akan membahas persoalan ini dengan memberikan bantuan santunan untuk jasa penyelenggara pemilihan.

Sebagai penegak demokrasi, kata Wahyudi, akan terus berupaya mengoptimalkan hasil Pemilu di daerah dengan yang jujur dan adil.

"Kita patut bersyukur dan berterimakasih sekira memang ada respon dari pemerintah daerah memberikan santunan dan bantuan kesehatan, terutama kepada yang meninggal dunia menjadi prioritas utama," ujarnya.

Sementara, Pelaksana tugas Bupati Labuhanbatu, Andi Suhaimi Dalimunthe, menginginkan tahapan Pemilu mendatang berjalan sesuai jam kerja pada umumnya untuk menghindari potensi korban meninggal dunia maupun sakit.

Secara teknis pembatasan jam kerja dalam Pemilu dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja, sehingga petugas penyelenggara pemilhan dapat beristirahat dan menjalankan tugasnya kembali apabila proses tahapan Pemilu belum selesai.

Menurutnya, Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Labuhanbatu ini, Pemilu secara serentak 2019 ini memang menguras tenaga dan pikiran pemerintah dan masyarakat.

"Kita ketahui bersama ada petugas penyelenggara Pemilu yang sakit dan meninggal dunia ini adalah pantauan buat kita pemerintah daerah dan pemerintah pusat bahwa kedepannya dievaluasi," jelasnya. (AL/mk)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru