SUMUT

NASIONAL

Gas Beracun di Banuaji Taput, Warga Minta Tim Ahli Independen Diturunkan dan Hentikan Aktifitas PT SOL

Selasa, 17 Maret 2020 | 06.49 WIB
Kali Dibaca |

Warga dari kawasan Banuaji Taput unjukrasa ke DPRD Taput menuntut dihentikannya aktifitas PT SOl dan pemerintah segera menurunkan tim ahli independen meneliti gas beracun di Banuaji.

Pahae, metrokampung.com
Masyarakat Kawasan Banuaji, Kecamatan Adian Koting Kabupaten Tapanuli Utara, Senin (16/3/2020), mendesak Pemkab Taput segera menurunkan tim ahli ke kawasan Banuaji. Hal itu guna memastikan keberadaan gas beracun di Banuaji. Termasuk jenis berikut dampaknya, bagi keselamatan nyawa warga disana.

Mereka juga mendesak pemerintah menghentikan aktifitas PT SOL di Pahae.

Itu mereka sampaikan saat ratusan warga Banuaji mendatangi Gedung DPRD Taput. Mereka, mendesak pemerintah segera melakukan tindakan cepat, menyusul semakin bertambahnya korban akibat semburan gas beracun.

Masyarakat disana sekarang diperhadapkan sulitnya melakukan aktifitas pertanian. Sebab takut nyawa mereka melayang. Padahal seperti diketahui, mata pencaharian warga disana bertani kemenyaaan, sawah, dan berladang.

Kekhawatiran ini disebabkan, bahwa pada tahun 2019 sudah ada warga petani meninggal, yang ditemukan di dekat semburam gas di Nagurguran Desa Banuaji IV, Kecamatan Adian Koting.

“Mayatnya ditemukan persis berdekatan dengan lokasi semburan gas,” cetita Tiyanto Tobing, salah satu warga yang ikut berunjuk rasa.

Dalam unjuk rasa itu terungkap, selain korban meninggal, telah banyak juga warga terkena dampak gas beracun. Diawali dengan pening di bagian kepala, sesak nafas, dan memicu terganggunya jantung.

Kondisi ini semakin menambah kekhawatiran yang sangat mendalam di tengah warga pada sejumlah desa yang berada di kawasan Banuaji. Sejumlah korban yang sudah mengalami dampak akibat gas beracun tersebut juga bersaksi di depan pelataran Gedung DPRD Taput.

DPRD Taput tak Ada

Sayangnya orasi, tuntutan, dan kesaksian korban dan masyarakat Banuaji ini tidak didengar DPRD Taput. Sebab hari itu, seluruh anggota DPRD Taput sedang mengikuti bimbingan teknis pimpinan dan anggota DPRD di Hotel Mercure Jakarta, sejak tanggal 15 s/d 18 Maret 2020.


Salah satu foto warga petani yang ditemukan tewas di dekat semburan gas beracun di Banuaji ikut dipampangkan warga di spanduk, dalam aksi unjuk rasa di DPRD Taput.

“Tetapi seandainya ada surat pemberitahuan sebelumnya dari warga Banuaji terhadap rencana unjuk rasa ini, kemungkinan besar salah satu mewakili DPRD akan tinggal di Taput,” kata Sekretaris DPRD Taput Rahman Situmeang kepada wartawan.

Namun ia menjelaskan, akan menyampaikan aspirasi warga Banuaji tersebut kepada Ketua DPRD sepulang dari Jakarta.

Hanya saja warga sempat tidak menerima penjelasan sekretaris dewan ini. Mereka memilih tetap bertahan, hingga mereka mendapat jawaban yang pasti dari anggota dewan.

“Sudah pernah kami merasa kesal dengan hal serupa saat kami melakukan unjuk rasa terhadap penebangan pinus di Dolok Martimbang. Nyatanya sampai sekarang, tidak ada tindak lanjut dan tidak satu pun anggota DPRD melakukan peninjauan ke lokasi,” sebut Jeje Tobing dan sejumlah warga, dalam tuntutanya.

Menurut Jeje Tobing yang juga salah satu orator menjelaskan, semburan gas berada di Banuaji II dan Banuaji IV. Tetapi dampaknya kini, telah meluas dan menyasar hingga ke seluruh kawasan Banuaji.

Stop Aktifitas PT SOL

“Kami tidak ingin korban semakin bertambah akibat gas beracun di Banuaji. Kami menduga kuat, ini akibat operasional PT SOL di Pahae Taput,” kata orator Dolpri Sihombing.

“Kalau sampai hari ini tidak ada jawaban yang pasti dari pemerintah, berikut penanggulangan, kami minta agar aktifitas PT SOL di Pahae, dihentikan. Warga di Banuaji pun telah gagal panen dan sudah berlangsung dua tahun terakhir ini,” sambung Dolpri Sihombing, yang juga Ketua LSM PKAP-RI Sumatera Utara, yang ikut mendampingi warga Banuaji.

“Kami (warga) juga menolak lahan kami dialihfungsikam pemerintah menjadi hutan lindung,” kata Dolpri.

Tokoh masyarakat Banuaji diwakili D Lumbantobing mengatakan, bahwa mereka akan akan mati kalau ke sawah. “Apakah ini akan dibiarkan pemerimtah? Bagaimana nasib kami ini,” katanya.

Sejumlah orator dan masyarakat yang berunjuk rasa juga mengatakan, bahwa setelah adanya aktifitas PT SOL di Pahae, barulah terjadi semburam gas beracun. “Kami minta diturunkan ahli yang jelas dan independen yang menjadi tim peneliti yang datang ke Banua Aji,” kata para tokoh masyarakat.

“Ingat, pada pukul 7 pagi sampe jam 6 sore apalagi saat mendung jangan sempat melewati lokasi gas beracun itu. Nyawa bisa melayang. Kalau bapak mau kesana biar saya tunjukkan. Tetapi saya tidak akan ikut,” ujar D Lumbantobing, menggambarkan betapa gas yang muncrat di desa mereka telah menjadi momok sangat menakutkan.

Meskipun orasi sudah berakhir, massa masih tetap bertahan di Gedung DPRDTaput. Mereka bersikeras agar aspirasi mereka didengarkan langsung anggota DPRD. Massa yang mencapai 300 sempat bertahan di pelataran Gedung DPPRD Taput, sembari memasang lagu-lagu ‘kegelisahan’ dari Iwan Fals.

Namun setelah ada seruan dari sejumlah tokoh masayarakt di Banuaji, mereka pun bubar dengan tertib, sembari menyusun langkah selanjutnya.(JP/MK)

Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru