Taput, metrokampung.com
Diduga tak terima diberitakan selama ini, wartawan media online www.metrokampung.com, Jufri Panjaitan dikeroyok keluarga Sumitro Sitompul Kepala Desa Sigurunggurung, Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara, tepatnya di depan Kantor Kepala Desa Jalan Huta Buntul, Minggu (12/04/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Jufri Panjaitan mengalami luka di kepala akibat hantaman batu yang dilayangkan Sumitro Sitompul. Korban tidak terima akan perlakuan ini, dan langsung membuat Laporan Pengaduan (LP) ke Polsek Pahae Jae, Taput.
Ini keterangan Jufri Panjaitan :
Kronologis Awal:
Saya sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah dengan mengendarai sepeda motor setelah dari kedai (lapo) milik Sintong Nababan. Setibanya di depan Kantor Kepala Desa Sigurunggurung, saya melihat sebuah sepeda motor terparkir di pinggir jalan. Di lokasi tersebut, saya melihat Sumitro Sitompul bersama istrinya, Rustina Hutagalung, sedang berdiri tepat di simpang Huta Butul.
Konfrontasi Verbal:
Saya mendekatkan sepeda motor dan bertanya secara baik-baik kepada Sumitro, "Sepeda motor siapa ini, Tulang?". Namun, pertanyaan tersebut dijawab dengan nada kasar, "Apa urusanmu di sini?". Saya sempat mendebat dengan mengatakan bahwa pertanyaan saya wajar, lalu Sumitro menyahut dengan nada sinis, "O, wartawan kau ya...".
Cekcok mulut pun terjadi, yang diduga kuat dipicu oleh rasa tidak senang pelaku terhadap pemberitaan yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu.
Aksi Penganiayaan:
Secara tiba-tiba, Sumitro menghantamkan batu yang sudah ia genggam di tangan kanannya ke arah kening saya diposisi saya sedang distasteful sepeda motor, sambil berkata, "Biar kau tanda siapa aku!". Tak lama kemudian, anaknya yang bernama Rizky Sitompul muncul dari arah kantor kepala desa dan ikut menyerang saya sembari berteriak, "Aku pun, biar kau tanda!".
Pengeroyokan:
Saya berusaha menghindar dengan turun dari motor dan berjalan mundur, namun kedua pelaku terus merangsek maju. Sementara itu, Rustina Hutagalung mengikuti dari belakang sambil berteriak minta tolong. Dalam kondisi gelap dan minim penerangan, Rizky memukul pipi kanan saya hingga saya terjatuh. Saat saya terjatuh, keduanya mengeroyok saya secara membabi buta; Rizky menendang dada saya, sementara Sumitro memukuli badan saya.
Upaya Penyelamatan:
Di tengah pengeroyokan, Rustina sempat berteriak kepada Rizky, "Abangmu itu Rizky!", dan mencoba melerai karena panik melihat kondisi saya sembari berteriak, "Sudah pecah kepalanya, ayo lari!". Memanfaatkan momentum tersebut, saya segera bangkit, menuju sepeda motor, dan langsung memacu kendaraan menuju Polsek Pahae Jae untuk menyelamatkan diri.
Tindakan Kepolisian:
Setibanya di kantor polisi, saya melapor kepada petugas jaga yang kemudian mengarahkan saya untuk segera melakukan pemeriksaan medis di Puskesmas yang berada tepat di samping Polsek. Setelah itu, saya bersama tiga orang personel kepolisian Kanit Serse Dody Sianturi, Davit Simatupang, Ator Sianturi kembali ke TKP untuk melakukan olah tempat kejadian perkara, namun para pelaku sudah tidak berada di lokasi.
Laporan Resmi:
Pada siang harinya, didampingi oleh istri, saya secara resmi membuat Laporan Pengaduan ke Polsek Pahae Jae. Laporan tersebut diterima oleh Aipda Doli Manurung, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan keterangan saksi serta pelapor oleh Kanit Reskrim Polsek Pahae Jae, Senin (13/04/2026) pagi jam 09:00 WIB. Saya bersama istri kembali periksa ke Puskesmas Sarulla, dan dilanjut silahturahmi, sekalian mengambil Surat Tanda Penerimaan Laporan dari Polsek Pahae Jae karena sebelumnya belum di tanda tangan.
Terimakasih atas pelayanan Kapolsek Pahae Jae Pak IPTU Sutomo Mangapul MS dan Jajaranya, dari waktu kejadian sampai saat ini saya dilayani dengan baik.
Laporan : Jufri Panjaitan
Editor : Simon Sinaga
