Hoaks Jadi Penghambat Melonjaknya Kasus Campak di Sumut

Editor: metrokampung.com
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Hamid Rijal.(ft/ist)

Medan, Metrokampung.com
Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Sumut) mengungkapkan bahwa maraknya penyebaran informasi bohong atau hoaks menjadi penghambat utama dalam penanggulangan wabah campak di wilayah tersebut.

Hingga April 2026, akumulasi kasus suspek campak di Sumut tercatat melonjak drastis hingga menyentuh angka 748 kasus.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Hamid Rijal, menjelaskan bahwa penolakan masyarakat terhadap vaksinasi masih sering ditemui akibat pengaruh berita palsu. Hal ini berdampak langsung pada rendahnya capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di sejumlah daerah yang menjadi titik panas (hotspot).

"Penolakan masih banyak terjadi dari masyarakat karena banyak informasi hoaks terkait imunisasi yang beredar," ujar Hamid, Rabu (13/5/2026).

Capaian Imunisasi Rendah
Berdasarkan data per April 2026, realisasi imunisasi bayi lengkap di beberapa wilayah terpantau masih sangat minim. Di Kota Medan, capaian baru menyentuh 7,6 persen. Sementara itu, Kabupaten Simalungun berada di angka 22,77 persen, dan Kabupaten Deli Serdang sebesar 31,48 persen.

Selain faktor hoaks, Hamid menyebut ada tantangan internal lain yang dihadapi, antara lain:
Mutasi Petugas, seringnya pergantian petugas imunisasi di tingkat daerah. Kurangnya dukungan lintas sektor. Program imunisasi masih dianggap sebagai rutinitas biasa, sehingga kurang mendapat prioritas dari pemangku kepentingan terkait. Kendala Logistik, sempat terjadi kekosongan stok vaksin MR selama dua bulan di awal tahun 2026. Keterbatasan Anggaran, dukungan anggaran daerah dinilai belum mencukupi untuk menangani lonjakan kasus yang masif.

Penetapan Status KLB
Data menunjukkan tren kenaikan kasus yang signifikan dalam waktu singkat. Pada 5 Maret 2026, tercatat ada 387 suspek dengan 22 kasus positif. Namun, angka tersebut membengkak menjadi 748 suspek dengan 51 kasus positif pada 30 April 2026.

Akibat lonjakan ini, tiga wilayah di Sumatera Utara resmi ditetapkan sebagai kategori "Kejadian Luar Biasa (KLB)" yaitu, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Batubara. 

Langkah Penanggulangan

Menyikapi situasi tersebut, Dinkes Sumut kini menggencarkan kampanye imunisasi kejar secara massal melalui program "PENARI (Sepekan Mengejar Imunisasi)".

"Petugas kesehatan mulai dibekali pelatihan komunikasi antar-personal untuk mengedukasi orangtua dan meredam keraguan akibat hoaks," tambah Hamid.

Selain itu, untuk mencegah penyebaran lintas wilayah di tengah mobilitas penduduk yang tinggi, pemerintah juga memperkuat sistem surveilans melalui "Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons" (SKDR) yang mengintegrasikan data antara Puskesmas dan rumah sakit di seluruh Sumatera Utara.(Ra/mk)
Share:
Komentar


Berita Terkini