![]() |
| Arisha Zainabba Nasution berjuang melawan waktu.(ft/ist) |
Medan, Metrokampung.com
Di usianya yang baru menginjak 2 tahun 1 bulan, Arisha Zainabba Nasution harus merasakan getirnya perjuangan hidup. Ketika anak-anak seusianya sedang aktif bermain dan belajar berbicara, balita asal Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara ini justru harus menghabiskan hari-harinya dengan selang dan tabung oksigen.
Arisha terlahir dengan kelainan jantung bocor bawaan. Kini, kondisinya sedang kritis dan ia harus berkejaran dengan waktu untuk bisa bertahan hidup.
Titik terang mulai muncul bagi keluarga kecil ini. Jika tidak ada aral melintang, Arisha dijadwalkan akan menjalani operasi jantung by-pass di Rumah Sakit Jantung Jakarta pada Sabtu, 6 Juni 2026 mendatang.
Kepastian ini didapat setelah Arisha menjalani konsultasi intensif dengan dokter anestesi dan dokter bedah di RS Jantung Jakarta pada Selasa (26/5) lalu. Namun, perjalanan menuju ruang operasi bukanlah perkara mudah bagi sang balita.
"Setelah sejumlah tes, Arisha sudah dijadwalkan akan dioperasi pada Sabtu, 6 Juni 2026. Arisha sedikit rewel dan masih trauma karena kembali harus menjalani berbagai tes kondisi jantung serta pengambilan darah rekam jantung sebelum operasi," cerita ayah Arisha, Zulfikar Nasution (33), dengan nada getir, Jumat (29/5).
Empat Komplikasi yang Membelenggu Tubuh Mungil Arisha
Secara medis, Arisha didiagnosis mengalami kebocoran sekat jantung besar atau "Ventricular Septal Defect" (VSD) perimembran "inlet-outlet". Kelainan ini memicu aliran darah yang tidak normal, yang pada akhirnya membebani organ pernapasannya.
Pemeriksaan tim dokter di Jakarta menunjukkan bahwa paru-paru Arisha mulai terdampak serius. Tindakan operasi pun sudah berada di titik "tidak bisa ditunda lagi". Saat ini, tubuh mungilnya sedang dikepung oleh empat komplikasi utama, Kebocoran sekat jantung besar ("Large VSD"), Hipertensi pulmonal ringan-sedang, Penumpukan cairan di paru-paru, gangguan pernapasan berat
akibat komplikasi yang kompleks ini, hidup Arisha sepenuhnya bergantung pada tabung oksigen untuk membantunya bernapas.
Tak hanya itu, sebuah selang "Nasogastric Tube" (NGT) terpasang di hidungnya untuk menyalurkan asupan nutrisi. Arisha tidak bisa makan seperti anak normal, ia hanya bisa mengonsumsi susu khusus yang membuat berat badannya begitu sulit untuk naik.
Terbentur Biaya dan Asa yang Tersisa
Idealnya, operasi jantung seperti ini dilakukan sebelum pasien menginjak usia dua tahun. Hal itu penting demi mendapatkan peluang pemulihan yang lebih baik dan mencegah kerusakan permanen pada paru-paru.
Namun apa daya, keterbatasan biaya membuat orang tua Arisha baru bisa membawanya terbang dari Deli Serdang ke Jakarta baru-baru ini.
Zulfikar, sang ayah, hanyalah seorang buruh harian di sebuah pabrik sabun di Patumbak dengan penghasilan yang pas-pasan sesuai upah minimum.
Sebelum akhirnya dirujuk ke Jakarta, selama hampir dua tahun keluarga ini rutin membawa Arisha berobat ke RSUP H. Adam Malik, Medan.
Meski biaya operasi dan pengobatan utama ditanggung oleh Program Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS Kesehatan), kenyataan di lapangan berkata lain. Ada banyak kebutuhan esensial pengobatan luar daerah yang tidak tercakup dalam skema jaminan pemerintah tersebut.
Uluran Tangan untuk Senyum Arisha
Wina Khairina, pendamping pasien yang selama ini setia membantu Arisha, membeberkan realita biaya non-BPJS yang harus ditanggung mandiri oleh keluarga.
"Mulai dari biaya hidup selama masa pengobatan di Jakarta, susu nutrisi khusus penunjang berat badan, popok, vitamin, obat tambahan di luar tanggungan, sewa tabung oksigen, serta tiket kepulangan ke Sumatra Utara nanti," ungkap Wina.
Bahkan, keberangkatan Arisha dan ibunya ke ibu kota bisa terlaksana berkat hasil urunan keluarga serta kemurahan hati para dermawan.
Hingga Kamis, 28 Mei 2026, total dana yang terkumpul dari para donatur tercatat sebesar Rp33.642.301. Dana tersebut dihimpun melalui platform penggalangan dana digital (Rp4.117.301) dan donasi langsung dari berbagai pihak (Rp29.525.000).
Secara keseluruhan, Arisha membutuhkan dukungan dana sedikitnya Rp50.000.000 untuk membiayai seluruh proses, mulai dari persiapan operasi hingga fase pemulihan pascaoperasi (rawat jalan) nanti. Saat ini, para relawan masih berkejaran dengan waktu untuk mengumpulkan sisa donasi sebesar Rp16.357.699 sebelum kampanye ini ditutup pada 16 Juni 2026.
Harapan itu masih ada, dan detak jantung Arisha kini bergantung pada kepedulian kita bersama.
"Mari bantu Arisha untuk berjuang menghadapi bocor jantung bawaan agar bisa hidup normal seperti anak lainnya," ajak Wina penuh harap.(Ra/mk)
