SUMUT

NASIONAL

Forum Peduli Demokrasi Optimis Tumbangkan Kekuasaaan Oligarki Calon Tunggal Dengan Kotak Kosong

Sabtu, 19 September 2020 | 11.05 WIB
Kali Dibaca |

Parulian Simamora, Kordinator Posko relawan pemenangan Kotak Kosong
Doloksanggul, Metrokampung.com
Menyikapi  arogansi dan fenomena politik yang terjadi di Bumi Humbang Hasundutan  terkait pelaksanaan Pilkada 9 Desember 2020 dengan hanya melahirkan pasangan Calon Tunggal yang didukung oleh seluruh Partai Politik pemilik kursi di Parlement DPRD. Ribuan masyarakat menamakan diri RAKYAT BERSATU yang tergabung dalam sebuah wadah, yakni Forum Peduli Demokrasi Humbang Hasundutan (FPDHH) menyatakan sikap menolak calon tunggal dalam sistem Pilkada serentak.

Mereka beranggapan bahwa sistem Pilkada dengan calon tunggal sangat bertentangan dengan prinsip-prinsi demokrasi serta dinilai membungkam kedaulatan rakyat dalam  menentukan pilihan pemimpin yang dirasa pantas dan terbaik. Maka dari itu, lilin kesadaran harus dinyalakan hingga ke pelosok, dengan menyatukan hati seluruh komponent masyarakat untuk memperjuangkan kemenangan kolom kosong atau kotak kosong dalam Kontestasi Pilkada.

Hal itu menurut mereka sebagai wujud penolakan pasangan calon tunggal yang di bekap oleh kekuasaan oligarki dan meremehkan kedaulatan, sekaligus sarat dengan ambisi kekuasaan yang dikawatirkan mengancam kepentingan hajat hidup orang banyak.

Parulian Simamora,  Ketua MPC.  Pemuda Pancasila (PP) kabupaten Humbang Hasundutan selaku Kordinator Kabupaten kepada media Sabtu, (19/9/2020) di Pusat Posko Pemengangan Kotak Kosong, Jalan Merdeka Doloksanggul mengatakan bahwa perspektif perjuangan kotak kosong lahir dan timbul dengan sendirinya berdasarkan nurani kepedulian masyarakat bonapasogit, baik yang di perantauan sebagai upaya perlawanan terhadap penindasan kekuasaan oligarki yang ingin mencoba mengintimidasi kedaulatan rakyat dengan memaksakan pilihan nya untuk dipilih rakyat.

Mantan anggota DPRD periode 2014 - 2019 dari Partai Golkar itu meyakini bahwa forum peduli demokrasi selaku Tim Relawan Pemenangan kotak kosong atau kolom kosong akan menumbangkan pasangan calon Tunggal di Pilkada serentak 9 Desember nanti. Dirinya menguraikan,  bersatu nya seluruh element masyarakat mulai dari komunitas Becak bermotor,  Ragam profesi, lintas marga,  tokoh agama bahkan gabungan pendukung masing-masing Balon Bupati yang gagal melaju dipastikan berjuang memenangkan kotak kosong sebagi bukti kedaulatan benar ditangan rakyat.

Jhonsar Lumban Toruan,  Sorang Tokoh penggerak pemuda sekaligus Inisiator relawan pemenangan kotak kosong dalam sosialisasinya menjelaskan bahwa Calon tunggal jelas membatasi pilihan. Hal ini bertentangan dengan prinsip demokrasi, yaitu kebebasan( memilih)." Sedangkan calon tunggal, sudah pasti tidak bebas, karena tunggal! Kecuali pengertian penganut faham oligarki tunggal itu jamak!," katanya.

Lanjutnya, bahwa Kotak kosong bukan pilihan dalam kontestasi peserta pilkada. Kotak kosong adalah sebagai saluran politik untuk menyatakan ketidaksetujuannya kepada calon tunggal. Mahkamah Konstitusi memberikan saluran politik kepada rakyat yang terzolimi. Terzolimi karena pilihan politiknya diganjal oleh para oligarkhi kekuasaan.

Terkait dengan pemerintah pusat memilih pejabat bupati bukan dari hasil demokratis. Menurut Jhonsar itu cara berfikir yang sesat.  Bila kolom kosong menang, itu artinya calon tunggal tidak bisa bupati. Sementara pemerintahan harus jalan, maka pemerintah pusat mengangkat pejabat sementara. Digaris bawahi SEMENTARA, hingga rakyat memilih kembali Bupati nya pada Pilkada Ulang. Dengan terjadinya Pilkada Ulang maka terbukti rakyat berdaulat, dengan memiliki hak konstitusi mengatur siapa saja yang berhak memimpin penyelenggaraan pemerintahan disuatu daerah.

Kecaman keras juga dikemukakan oleh Mangupar Manullang salah seorang tokoh di komunitas marga Siraja Oloan Kabupaten Humbang Hasundutan. Dirinya menegaskan bila terjadi calon tunggal melawan kotak kosong,  maka secara sukarela dan semangat tinggi dirinya akan berkampanye ke  10 (sepuluh) kecamatan untuk mengajak masyarakat mengisi kotak kosong di Pilkada serentak.

Hal tersebut dilakukan karena menurutnya, Pilkada dengan melawan kotak kosong tidak mencerminkan demokrasi yang sesungguhnya. Tetapi mencerminkan kesombongan yang haus kekuasaan.  " Rakyat jangan dianggap otak kosong," tandasnya dengan mimik geram. (FT/MK)
Sebarkan:

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru